Akademisi Sebut Revisi UU KPK Cacat Formil

  • Whatsapp
Gedung KPK
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Peneliti di Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hukum (Puskapkum), Ferdian Andi menilai bahwa pengesahan terhadap revisi UU KPK telah melanggar regulasi dan cacat secara formil.

“Pengesahan revisi UU KPK menabrak sejumlah ketentuan yang besar kemungkinan akan menjadikan proses revisi UU KPK ini menjadi cacat formil,” kata Ferdian dalam keterangan persnya, Selasa (17/9/2019).

Bacaan Lainnya

Alasan mengapa pengesahan revisi UU KPK itu cacat formil lantaran dalam proses revisinya, regulator yakni DPR RI mengabaikan partisipasi masyarakat. Sejauh ini, partisipasi yang muncul dari publik melalui berbagai saluran tak dijadikan bahan masukan oleh Presiden dan DPR dalam pembahasan draf perubahan UU KPK tersebut.

“Padahal, prinsip dasar dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sebagaimana rumusan di Pasal 5 UU No 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di antaranya adanya keterbukaan,” ujarnya.

Namun begitu, Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya itu memberikan saran kepada siapapun yang tidak sependapat dengan hasil revisi UU KPK inisiatif DPR RI itu bisa melakukan upaya konstitusional, yakni melalui judicial review (JR).

“Ada baiknya, pihak-pihak yang keberatan dengan perubahan UU KPK ini dapat masuk melalui pintu pengujian formil yakni menguji atas proses pembentukan UU ke Mahkamah Konstitusi (MK),” tuturnya.

Dasar untuk melakukan JR itu kata Ferdian, bisa diambil dahulu dari aspek proses revisi terhadap regulasi yang memayungi KPK itu.

“Satu poin yang dapat dijadikan pintu masuk tak lain adalah berkenaan dengan pelaksanaan tata cara atau prosedur pembentukan UU baik dalam pembahasan maupun dalam pengambilan keputusann atas RUU menjadi UU,” imbuhnya. []

Pos terkait