Imam Nahrawi
Imam Nahrawi penuhi panggilan pemeriksaan oleh KPK. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi baru saja sampai di gedung merah putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tampak Imam Nahrawi mengenakan jaket merah bermotif batik. Ia ditemani oleh beberapa lawyernya untuk menjalani pemeriksaan tim penyidik KPK.

Kepada wartawan, Imam Nahrawi menyatakan bahwa dirinya menerima semua takdir Tuhan yang saat ini dialaminya.

“Bismillahirrahmaanirrahim. Saya menerima takdir ini,” kata Imam Nahrawi kepada wartawan, Jumat (27/9/2019).

Sementara terkait dengan status tersangka yang dijeratkan kepadanya oleh KPK, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Bahkan ia pun bersumpah atasnama Tuhan dan Rasulullah.

“Demi Allah, Demi Rasulullah. Allah itu Maha Baik dan takdir-Nya tidak pernah salah,” ujarnya.

Usai memberikan statemen itu, Imam Nahrawi langsung masuk ke dalam gedung KPK tanpa mempedulikan pertanyaan lanjutan wartawan mengenai detail sikapnya terhadap kasusnya itu.

Perlu diketahui, bahwa Wakil Ketua KPK Alexander Marwata didampingi oleh jubir KPK Febri Diansyah menyampaikan bahwa lembaganya telah menetapkan Imam Nahrawi sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penerimaan suap dalam kaitan dana hibah KONI.

Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan asisten pribadinya yakni Miftahul Ulum karena peran sertanya dalam transaksi dana Rp14.700.000.000 itu dalam waktu tahun 2014 hingga 2018.

“Dalam penyidikan tersebut ditetapkan dua orang tersangka IMR (Imam Nahrawi -red) dan MIU (Miftahul Ulum -red),” kata Alexander Martawa di gedung KPK, Rabu (18/9).

Selain menerima uang suap Rp14,7 miliar, Alexander juga menyampaikan bahwa Menpora telah menerima uang suap serupa senilai Rp11,8 miliar dalam rentang waktu tahun 2016 hingga 2018.

Dengan demikian, total uang yang diterima Menpora dalam kasus dana hibah KONI adalah senilai Rp26,5 miliar. Uang sebanyak itu merupakan uang cincai (commitment fee) dalam pengurusan proposal dana hibah KONI kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Maka dari itu, perbuatan Imam Nahrawi dan Miftahul Ulum disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. [NOE]

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia