SETARA Institute Nilai Serangan ke Wiranto Aksi Teror ke Negara, Ini Alasannya

  • Whatsapp
Ismail SETARA
Direktur Eksekutif SETARA Insitute, Ismail Hasani.

Waspada pola pergerakan JAD

Perlu diketahui, bahwa penyerang Wiranto adalah Syahril Alamsyah alias Abu Rara dan istrinya Fitri Andriana. Keduanya diindikasi oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kepolisian sebagai anggota dari Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syira (ISIS).

Bacaan Lainnya

Melihat dari background jaringan separatisnya itu, Ismail mengingatkan bahwa kelompok JAD harus menjadi atensi untuk menekan pergerakan terorisme dan radikalisme di Indonesia. Apalagi jika melihat dari pola pergerakan jaringan ini yang tidak mudah diendus begitu saja.

“Pola organisasi dan pendekatan amaliah JAD bentukan Aman Abdurrahman, yang divonis mati untuk sejumlah kasus terorisme (22/06/2018), memang berbeda dari organisasi terorisme lainnya yang melakukan aksi dalam skala besar,” terang Ismail.

Pengajar Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga memberikan warning bahwa pola permainan gerakan JAD ini bukan permainan kelompok seperti jaringan teroris lainnya. Mereka akan melakukan penyerangan secara personal dan sifat mereka sangat cair.

“Jejaring organisasi JAD sangat cair, dengan sleeping cell (sel tidur) tidak terstruktur tetapi menyebar dan mengadopsi pendekatan lone wolf (bergerak secara sendiri-sendiri) dalam melakukan amaliah,” paparnya.

Walaupun terlihat pergerakan mereka dilakukan secara masing-masing dan individual, namun daya serangannya tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Gerakan sporadis dan sendiri-sendiri dilakukan oleh anggota JAD yang meskipun tindakan kecil tetapi memelihara efek keresahan berkepanjangan,” lanjutnya.

Indonesia harus lawan terorisme dan radikalisme

Dalam kesempatan yang sama, Ismail menyampaikan bahwa SETARA Institute sangat mengutuk segala bentuk aksi teror dan kegiatan radikal yang mengarah pada ancaman terhadap negara dan bangsa Indonesia.

“SETARA Institute mengutuk segala bentuk terorisme dan ekstremisme kekerasan (violent extremism) serta penggunaan doktrin ideologis apapun untuk mengganggu dan merusak tatanan hidup bersama bangsa dan negara,” tegas Ismail.

Baginya, terorisme adalah kejahatan yang tidak bisa ditolerir dan harus menjadi perhatian serius dari negara.

“Terorisme merupakan ancaman nyata. Oleh karena itu, pemerintah harus selalu menyiagakan dan memobilisasi sumber daya yang memadai untuk mencegah dan menangani ekspresi puncak ekstremisme kekerasan tersebut, demi menjaga dan melindungi keselamatan seluruh warga negara,” tandasnya.


Pos terkait