IPI Ingatkan Ancaman Penumpang Gelap Perkeruh Suasana Jelang Pelantikan Jokowi

  • Whatsapp
Karyono Wibowo
Direktur eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. [foto : Istimewa]
PHP Dev Cloud Hosting

Inisiatifnews – Pengamat politik, Karyono Wibowo mengatakan bahwa suhu politik menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI sejak pekan lalu terus memanas.

Hal ini bisa memicu kekhawatiran dan dampak terhadap situasi politik hukum dan keamanan (Polhukam) Indonesia. 

Bacaan Lainnya

Menurut Karyono, yang harus diwaspadai adalah mereka para penumpang gelap yang ingin memperkeruh suasana.

“Mereka bisa saja melakukan provokasi untuk menimbulkan chaos sehingga menimbulkam instabilitasi politik dan keamanan,” kata Karyono saat acara diskusi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019).

Ia melihat, kelompok ini anti demokrasi dan mengusung ideologi khilafah. Dan Karyono menyebutkan bahwa gerakan mereka akan mendogmakan jika pemerintah Indonesia dan Kepolisian adalah pemerintahan dan aparat toghut. Dan ini menurut Karyono, merupakan ancaman tersendiri.

“Mereka kelompok anti demokrasi. Yang menganggap kepolisian dan pemerintah itu thogut. Ini yang perlu diwaspadai,” jelasny.

Direktur Indonesian Public Institute (IPI) ini beranggapan, bahwa mereka seperti memancing di air keruh.

“Namanya mancing pasti dapat ikannya (keuntungan). Bisa saja ada sponsor dibalik itu. Kalau Jokowi digagalkan ada pemilu baru. Namun itu terlalu jauh kalau pelantikan presiden digagalkan,” imbuh Karyono.

Mereka juga kecewa dengan Pilpres 2019 lalu, dimana hasilnya tak sesuai keinginan mereka.

“Kalau itu kekecewaan pasti ada. Yang berpotensi mengacaukan situasi adalah kelompok anti demokrasi. Kalau pendukung kecewa itu biasa lah,” ungkap Karyono.

Ia mengatakan beberapa fenomena selama menjelang pelantikan presiden ada beberapa peristiwa yang diangggap sangat mengkhawatirkan yang diduga dapat mempengaruhi pelantikan presiden 20 mendatang. Misalnya peristiwa Kerusuhan di Wamena, kemudian aksi menolak revisi dan terbaru adalah insiden penusukan Wiranto.

“Tetapi saya melihat, meskipun mempengaruhi pelantikan, tetapi peristiwa itu tidak memiliki korelasi dengan pelantikan. Saya melihatnya sejumlah peristiwa itu tidak memiliki tujuan Yang sama. Misalnya peristiwa Wamena dan aksi demonstrasi yang memiliki agenda dan tujuan yang berbeda-beda.” kata Karyono.

“Saya tidak melihat ada indikator aksi tersebut diarahkan untuk menggagalkan pelantikan presiden.” terangnya.

Kesimpulannya, Karyono melihat gerakan itu berdiri sendiri. 

“Saya tidak yakin kalau ada kekuatan besar yang dapat menggagalkan pelantikan Jokowi.” kata Karyono.

Menurut dia, jika ada kelompok yang ingin menggagalkan pelantikan presiden maka gerakan tersebut bisa disebut sebagai gerakan inkonstitusional, melanggar hukum,” imbuh Karyono. []

Pos terkait