Menag Diminta Bekerja Fokus dan Tepat Sasaran, Termasuk Berantas Radikalisme

  • Whatsapp
Fachrul Razi
Menteri Agama RI, Jenderal (purn) TNI Fachrul Razi.
PHP Dev Cloud Hosting

Inisiatifnews – Menteri Agama, Fachrul Razi menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan perintah langsung dari Presiden Joko Widodo untuk bekerja sesuai dengan sasaran, bukan hanya sekedar menjalankan program semata.

“Ya soal Radikalisme dan program-program sesuai sasaran. Jangan hanya dilaksanakan, sesuai sasaran nggak, fokus nggak, jadi sudah bagus lah beliau (Presiden) itu,” kata Fachrul Razi di kantornya kepada wartawan, Jumat (25/10/2019).

Bacaan Lainnya

Saat disinggung tentang pemberantasan radikalisme di Indonesia, purnawirawan jenderal TNI dan lulusan Akademi Militer 1970 itu menyampaikan, bahwa pemberantasan radikalisme tetap akan melalui tahapan-tahapan yang terukur.

“Sudah bolak-balik saya katakan itu, semua ada tahap-tahapnya, nggak tiba-tiba ngantemin orang. Nggak gitu lah ya,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid pernah memberikan catatan bahwa persoalan intoleransi dan radikalisme masih menjadi PR besar bagi Indonesia ke depan. Maka dari itu, menciptakan masyarakat yang toleran menjadi pekerjaan berat bagi pemerintahan ke depan.

“Kita ke depan tidak bisa bercita-cita untuk menciptakan negara dan bangsa yang makmur sejahtera, tetapi juga bangsa makmur, sejahtera dan toleran. Toleransi, kerukunan antar umat dan kerukunan antar warga jadi faktor besar yang menjadi ukuran keberhasilan pemerintahan manapun di dunia. Yang akan bisa menjadi faktor mengantar keberhasilan ekonomi dan capaian-capain lainnya,” kata Yenny Kamis (9/5/).

Selain itu, berdasarkan dari survei yang dilakukan Wahid Foundation pada tahun 2016, hanya sekitar 0,4 persen responden yang radikal. Angka tersebut menurun pada survei tahun 2017, di mana hanya 0,3 persen responden yang radikal.

Namun, Yenny mengingatkan, persentase tersebut tetap menjadi persoalan jika diproyeksikan terhadap total jumlah penduduk Indonesia.

“Walaupun angkanya 0,3 persen, tapi kalau diproyeksikan terhadap jumlah penduduk Indonesia, katakanlah 150 juta orang dewasa maka yang didapat angkanya 600.000 orang. Ini besar sekali,” ungkapnya.

Yenny membeberkan sejumlah tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan radikalisme, seperti merusak rumah ibadah agama lain, melakukan demonstrasi terhadap mereka yang dianggap melakukan penistaan terhadap agama, menyumbang kepada organisasi yang dianggap radikal. Ancaman radikalisme semakin nampak mengkhawatirkan jika melihat angka survei berikutnya.

Diungkapkan Yenny, dalam survei tahun 2017, terdapat 7,8 persen responden yang bersedia menjadi radikal. Bila diproyeksikan kepada jumlah penduduk Indonesia, maka terdapat sekitar 11 juta penduduk Indonesia yang bersedia melakukan tindakan radikalisme.

“Kalau tidak diatasi ini akan menjadi persoalan pemerintahan kita siapapun presidennya,” katanya. []

Pos terkait