Hikam
Akademisi di Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews – Akademisi dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam ikut menyoroti kegaduhan terkait dengan soal salam lintas agama.

Menurutnya, kegaduhan konteks fundamental semacam itu menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan dalam pemberian pemahaman multi kultur bagi bangsa Indonesia.

“Himbauan agar umat Islam tak ucapkan salam dari agama-agana lain adalah petunjuk bahwa pendidikan multikulturalisme sudah sangat mendesak bagi bangsa kita,” kata Hikam dalam keterangannya, Senin (11/11/2019).

Bagi Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional di bawah kepemimpinan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, soal salam lintas agama bukan sebuah kesaksian yang bisa membawa mudharat bagi kualitas keimanan seorang pemeluk agama yakni Islam. Karena salam lintas agama adalah hanya sebuah ekspresi kultur bangsa yang majemuk.

“Saya lebih cenderung mengatakan bahwa salam bukanlah persaksian, tetapi lebih merupakan ekspresi budaya untuk menandai identitas,” ujarnya.

“Karenanya, ia tidaklah merupakan bagian dari teologi. Ia adalah ciptaan manusia sebagai komunitas dan karenanya fungsinya bisa kontekstual dan bukan absolut,” imbuh Hikam.

Perdebatan tentang salam lintas agama yang saat ini tengah diangkat oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Abdusshomad Bukhori mirip dengan perdebatan antara boleh atau tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal bagi umat agama Nasrani atau Kristen.

“Menyatakan bahwa mengucapkan salam lintas agama akan mendapat murka Tuhan, seperti dinyatakan oleh seorang tokoh MUI, menjadi problematik. Ini mengingatlan saya kepada fatwa mengucapkan selamat Natal yang setiap tahun menjadi wacana publik di negeri ini,” tuturnya.

Namun dari sudut pandang pemahamannya, bahwa salam sejatinya hanya sebuah kreasi dan inovasi budaya yang ada dalam lingkungan majemuk dan multikultural seperti Indonesia.

“Salam lintas agama adalah invensi, kreasi atau bahkan inovasi budaya dalam konteks Indonesia. Mungkin tak ada atau sedikit sekali negara atau bangsa selain Indonesia yang menggunakan salam lintas agam ini secara intensif dan spontan,” pungkasnya.

Karena sifatnya hanya inovasi budaya dan kreasi kultur masyarakat bernegara yang majemuk, Hikam menyarankan agar perbedaan persepsi itu tidak lantas menggunakan argumentasi teologi dan melibatkan Keesaan Tuhan.

“Terlepas dari setuju atau tidak, menerima atau menolak eksistensi inovasi budaya tersebut, ia semestinya tidak lantas divonis dengan melibatkan Tuhan bahkan menggunakan argumen teologis,” tandasnya.

Selain itu, Hikam juga menyebutkan bahwa umat Islam sebagai bagian dari mozaik bangsa Indonesia, tentu memiliki hak budayanya yang bisa saja berbeda dengan umat Islam di negara lain, seperti Malaysia, Pakistan, Saudi, sebagai beberapa negara yang mayoritas Muslim namun tak punya budaya sepertu lebaran dan salam lintas agama. Dan hal semacam itu baginya sah-sah saja terjadi.

Bahkan kata Hikam, kemampuan berinovasi budaya di Indonesia oleh umat Islam sepanjang sejarah bangsa, justru menunjukkan kebesaran nilai Islam.

“Ia menjadi bukti bahwa Islam dan umatnya adalah agama dan umat yang ramah, bukan pemarah,” tutur Hikam.

Oleh karena itu agar persoalan semacam itu tidak terjadi dan bangsa Indonesia lebih cerdas dalam bersosialiasi dengan umat budaya lain khususnya yang sebangsa, maka pendidikan tentang lintas budaya dan agama menjadi penting untuk diajarkan kepada para generasi bangsa Indonesia.

“Agar bangsa Indonesia dan umat Islam makin memiliki sense of belonging terhadap khazanah budaya dan punya cultural sensitivity yang diperlukan dalam membangun peradaban, saya kira pendidikan multikulturalisme menjadi salah satu jawabannya,” tutup Hikam.

space iklan