AS Hikam
Muhammad AS Hikam.

Inisiatifnews – Akademisi dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam mengaku aneh dengan polemik tentang salam lintas agama. Apalagi pertentangan itu dinilainya baru muncul akhir-akhir ini.

“Cuma tanya saja. Mengapa mengucapkan salam lintas agama, baru dipersoalkan saat ini,” kata Hikam dalam tulisannya yang diterima wartawan, Senin (11/11/2019).

Padahal jika ditelisik lebih jauh, budaya salam lintas agama dalam awal pidato bukan kali ini terjadi, bahkan sudah berlangsung cukup lama.

“Padahal kebiasaan tersebut sudah berlangsung lama, mungkin lebih satu dasawarsa terakhir,” ujarnya.

Itulah mengapa dirinya heran mengapa pertentangan salam lintas agama baru heboh saat ini. Ia bahkan bertanya-tanya apakah masyarakat yang heboh menolak itu baru sadar tentang adanya salam lintas agama tersebut.

“Apakah baru “ngeh” (sadar -red) bahwa hal itu merupakan masalah?. Atau baru sekarang isu itu layak untuk dijadikan masalah? Atau ilham untuk mempermasalahkan baru turun sekarang?,” tanyanya.

Lebih besar dari itu, Menristek era Presiden Gus Dur itu bertanya-tanya, jangan-jangan pengangkatan isu pertentangan salam lintas agama itu adalah pesanan khusus dari pihak-pihak yang memiliki agenda tertentu.

“Atau jangan-jangan perintah dari sang jeragan (boss) untuk membuatnya sebagai masalah baru diberikan sekarang? Nah, siapa gerangan sang jeragan tersebut? Apakah hanya satu individu atau sekelompok atau organisasi?,” pungkasnya.

Dan Hikam juga penasaran jika memang ini adalah sebuah by design dan by request, lalu siapa yang memesan isu tersebut. Apakah dari dalam negeri atau pihak luar negeri.

“Apakah murni domestik atau dari luar atau gabungan keduanya? Apa tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang melontarkan isu salam tersebur?,” tandasnya.

Di akhir narasinya, Hikam menilai bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya itu bisa dijawab dengan serius maupun dengan cara sederhana.

“Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas bisa saja serius yang memerlukan jawaban-jawaban serius. Atau bisa juga dianggap hanya pertanyaan-pertanyaan iseng dari orang iseng yang tak perlu digubris. Silakan,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa pertentangan soal salam menggunakan cara lintas agama heboh setelah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Abdusshomad Bukhori mengeluarkan surat edaran nomor 110/MUI/JTM/2019.

Surat edaran yang melarang pengucapan salam lintas agama oleh pejabat publik dalam pembukaan pidato itu dikatakan KH Abdusshomad Bukhori sesuai dengan Rakernas MUI di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 11-13 Oktober 2019 lalu.

Bahkan edaran KH Abdusshomad itu juga diamini oleh Sekjen MUI Pusat KH Anwar Abbas.

“Kalau ada orang Islam dan orang yang beriman kepada Allah berdoa dan meminta pertolongan kepada selain Allah SWT maka murka Tuhan pasti akan menimpa diri mereka,” kata Anwar Abbas dalam keterangan persnya, Minggu (10/11).

Namun, eks Ketua Umum PP Muhammadiyah, KH Ahmad Syafii Maarif menyayangkan wacana Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori itu, yakni agar umat Islam menghentikan kebiasaan mengucapkan selamat dengan ucapan salam beberapa agama saat menyampaikan salam pembuka.

Bagi ulama yang karib disapa Buya Syafii itu, bahwa wacana itu janggal di tengah kondisi bangsa yang sangat plural.

“Saya rasa janggal. Jangan terlalu ketat begitu, kita kan sebuah bangsa plural, Bhinneka Tunggal Ika,” kata Buya di Yogyakarta, Minggu (10/11).

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak merasa wajib dieksklusifkan sebagai umat agama mayoritas. Namun tetap merasa inklusif.

“Kita harus menjaga keutuhan bangsa, kebersamaan kita. Kita tidak boleh eksklusif, tapi selalu inklusif,” tuturnya. []

space iklan