Intimidasi Jurnalis, AJI Jakarta Nilai Polisi Ciderai Hari HAM

  • Whatsapp
Stop kekerasan terhadap jurnalis
Stop kekerasan terhadap jurnalis.

Inisiatifnews – Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Asnil Bambani menyayangkan sikap aparat keamanan dari institusi Polri yang melakukan aksi intimidatif terhadap jurnalis saat melakukan tugas peliputan.

Di mana seorang wartawan dari IDN Times dirampas handphone-nya dan dipaksa untuk menghapus rekaman video saat aparat kepolisian tengah mengamankan salah seorang massa aksi unjuk rasa peringati Hari HAM Dunia di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Bacaan Lainnya

Bagi Asnil, sikap oknum anggota polri tersebut telah menambah catatan buruknya sikap aparat keamanan dalam menjalankan tugasnya.

“Kejadian itu menambah catatan hitam kasus kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis oleh aparat kepolisian,” kata Asnil dalam keterangan persnya, Rabu (11/12/2019).

Dalam kasus ini, AJI Jakarta menilai aparat telah melakukan pelanggaran UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Undang-undang itu menyebutkan bahwa dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapatkan perlindungan hukum.

“Pasal 4 ayat 3 disebutkan, ‘Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi‘. Setiap orang yang menghambat atau menghalangi perihal tersebut terancam pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta,” jelasnya.

Selain pelanggaran UU Pers, oknum polisi yang melakukan intimidasi terhadap wartawan itu juga dianggapnya tidak mempedulikan Nota Kesepahaman Antara Dewan Pers dengan Polri Tahun 2017 tentang Koordinasi dalam Perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan Hukum terkait Penyalahgunaan Profesi Wartawan.

“Selama ini, kasus kekerasan terhadap jurnalis di Jakarta tak pernah diusut tuntas hingga ke pengadilan, apalagi yang diduga melibatkan aparat. Penegakan hukum dan keadilan bagi korban perlu mendapat perhatian serius dari aparat dan pemerintah agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang,” terang Asnil.

Oleh karena itu, ia pun mendesak kepada institusi Polri segera menindak anggotanya dengan proses hukum yang adil.

“AJI Jakarta menyatakan mendesak Polri segera menindak tegas personelnya yang melakukan kekerasan, intimidasi terhadap jurnalis dan memproses hukum pelaku hingga ke pengadilan,” tuntut AJI Jakarta.

Tidak hanya kepada aparat kepolisian saja, Asnil juga berharap perusahaan media yang menaungi awak media IDN Times untuk bersikap mengawal kasus tersebut.

“Mengimbau para pimpinan perusahaan media untuk terlibat aktif mengawal kasus yang dialami jurnalisnya,” imbuhnya.

Perlu diketahui, bahwa aparat kepolisian diduga kembali melakukan kekerasan terhadap jurnalis, tepat pada Hari HAM Sedunia, Selasa (10/12). Oknum polisi merampas alat kerja jurnalis IDN Times Helmi Shemi, kemudian menghapus rekaman video hasil liputannya.

Peristiwa itu terjadi ketika Helmi sedang meliput kerusuhan usai demonstrasi peringatan Hari HAM Sedunia di Jakarta. Sekitar pukul 19.00 WIB, Helmi mendapat kabar kerusuhan terjadi di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Dia bergegas ke lokasi.

Saat itu kerusuhan telah reda. Namun dia melihat dua anggota polisi mengapit seseorang di atas sepeda motor. Orang itu tampak meminta maaf kepada polisi. Helmi pun merekam video kejadian itu dengan menggunakan ponselnya.

Tiba-tiba polisi lainnya meneriaki dan merampas ponsel Helmi. Dia sempat ditanya dari media mana. Identitasnya sebagai jurnalis pun telah ditunjukkan. Namun polisi tersebut tak peduli.

“HP saya disita selama kurang lebih 5 menit oleh salah seorang polisi dan rekaman tersebut dihapus,” kata Helmi. []

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait