Mahfud MD
Menko Polhukam RI, Mahfud MD.

Inisiatifnews – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Republik Indonesia, Mahfud MD menyampaikan, banyak yang salah paham tentang maksud radikalisme yang saat ini tengah dilawan oleh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

Hal ini disampaikan Mahfud MD saat mengisi silaturrahmi nasional Ulama, Umaro, TNI dan Polri di Pekalongan, Jawa Tengah, pada hari Sabtu (7/12) yang lalu.

“Katanya pemerintah tidak paham apa yang namanya radikal. Kenapa radikalisme dimusuhi, radikalisme itu kan bagus, Nabi Muhammad dulu kan radikal,” ungkap Mahfud MD menjelaskan narasi kelompok masyarakat tertentu soal pemahaman radikalisme.

Dijelaskan Mahfud, maksud radikalisme pada era Nabi Muhammad SAW dengan saat ini yang diperangi oleh pemerintah, sangat berbeda konteksnya.

“Saudara, Nabi Muhammad dulu melawan kedzaliman, kita melawan kedzaliman. Kenapa, karena ini negara kita yang sudah demokrasi sekarang, jaman Nabi tidak ada demokrasi, (yang melawan) dibantai aja semua,” ujarnya.

Padahal di era demokrasi yang dijalankan oleh Indonesia dalam konteks berbangsa dan bernegara, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Bahkan pemerintah juga selalu membuka ruang dialog dengan rakyat.

Kebebasan yang dijamin konstitusi itu juga dikatakan Mahfud karena negara menyadari, bahwa perbedaan yang sangat kompleks di NKRI tidak bisa dinafikan begitu saja.

“Sekarang demokrasi kalian mau bicara apa, ayo kita bicara. Karena kita tahu orang yang tidak seagama, se-suku denganmu itu sama dengan keinginannya tentang negara ini,” jelasnya.

Menteri Pertahanan RI era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu juga menjelaskan, radikal pada jaman Rasulullah dengan kaum kafir Quraish lantaran saat itu Nabi Muhammad menjadi subyek yang ingin dibunuh. Sedangkan saat ini di Indonesia, hak hidup warga negara pun telah dijamin negara. Pemerintah sebagai pengelola negara juga memberikan ruang kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia untuk mengekspresikan pendapat dan keinginannya.

“Nabi Muhammad melawan orang Quraish secara radikal karena Nabi Muhammad selalu didiskriminasi, ditekan bahkan mau dibunuh dan sebagainya. Tapi kita sekarang mau melawan siapa, semuanya dibuka, kalian mau jadi apa silahkan, kalian mau dirikan sekolah, ayo, mau jadi tentara silahkan,” pungkasnya.

Karena itulah, Mahfud MD memberikan penekanan, radikalisme yang saat ini dilawan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan KH Maruf Amin bukan radikalisme seperti era Rasulullah. Melainkan radikalisme yang melawan kesepakatan yang sudah dibangun bersama-sama bangsa Indonesia yakni Pancasila untuk diganti dengan sistem pemerintahan lain.

“Jadi radikalisme itu cirinya adalah melawan sistem yang sudah nampak untuk diganti dengan yang lain yang belum jelas. Melawan kesepakatan yang sudah dibangun bersama kesepakatan itu,” terang eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini. [NOE]

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia