Haedar Nasir Sebut Radikalisme dan Terorisme Jadi Penanggulangan Utama

  • Whatsapp
Haedar Nasir
Pengukuhan Guru Besar Ilmu Sosiologi UMY kepada Haedar Nasir. [sumber foto : Tribunnews]

Inisiatifnews – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir mengatakan bahwa salah satu ancaman dan persoalan bangsa Indonesia adalah radikalisme.

Bahkan ia menyebutkan jika radikalisme hingga terorisme adalah salah satu poin penanggulangan utama pemerintah saat ini.

Bacaan Lainnya

“Radikalisme, khususnya terorisme menjadi isu dan agenda penanggulangan utama,” kata Haedar Nasir dalam orasi berjudul “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan Perspektif Sosiologi” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/12/2019).

Haedar menyatakan bahwa Indonesia dalam kurun terakhir seakan berada dalam darurat radikal dan radikalisme. Hal ini lantaran narasi waspada terhadap kaum jihadis, khilafah, wahabi, dan lain-lain disertai berbagai kebijakan deradikasasi, meluas di ruang publik.

Ditambahkan lagi dengan isu tentang masjid, kampus, BUMN, majelis taklim, dan bahkan lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) terpapar radikalisme juga semakin kuat dan terbuka di ruang publik yang menimbulkan kontroversi nasional.

Menurut Haedar, jika konsep radikal dikaitkan dengan apa yang oleh Taspinar (2015) disebut “violent movements” (gerakan kekerasan) seperti dalam berbagai kasus bom teror, penyerangan fisik, dan segala aksi atau tindakan kekerasan di Indonesia, maka dapat dipahami sebagai pandangan dan kenyataan yang objektif.

“Radikalisme agama, termasuk di sebagian kecil kelompok umat Islam pun tentu merupakan fakta sosial yang nyata,” ungkapnya.

Dalam posisi demikian, mantan Wakil Ketua PP IPM periode 1984-1986 itu mengatakan bahwa baik pemerintah maupun banyak komponen bangsa harus berkomitmen untuk bersama menolak segala bentuk paham dan tindakan radikal atau radikalisme yang bermuara pada kekerasan, makar, dan merusak kehidupan manusia dan lingkungannya yang Tuhan sendiri melarang tegas karena masuk tindakan “fasad fil-ardl” atau merusak di muka bumi.

Diakui, radikalisme agama memang terjadi dalam kehidupan, sebagaimana radikalisme lainnya di belahan bumi mana pun. Dan ini juga diakui Haedar Nasir sebagai kenyataan yang harus dilihat bersama-sama.

“Stigma radikalisme Islam itu begitu kuat dan kadang bersentuhan dengan Islamophobia, yang akarnya kompleks,” jelasnya.

Pemaparan Haedar Nasir ini juga dalam rangka menghadiri pengukuhan gelar Guru Besar Ilmu Sosiologi UMY kepadanya.

Acara tersebut berlangsung di gedung sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Hadir dalam kegiatan itu mulai dari menteri, pimpinan parpol, pimpinan ormas, pimpinan universitas, anggota legislatif, dan tokoh lainnya, termasuk mantan Wapres 2014 Jusuf Kalla.

Pengukuhan Haedar Nasir sebagai guru besar tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 35528/M/KP/2019 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen tertanggal 16 Oktober 2019, dengan angka kredit sebesar 894,50.

Penyerahan SK dilakukan oleh Kepala L2Dikti Wilayah V, Yogyakarta kepada Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto. Untuk selanjutnya, diserahkan kepada Haedar Nashir.

Rektor UMY, Gunawan Budiyanto mengatakan, Haedar menjadi guru besar ke-18 UMY. Ia berharap penobatan dan pengangkatan Haedar Nasir sebagai guru besar di kampusnya bisa memperkuat lembaga pendidikan Pascasarjana itu.

“Dengan bertambahnya guru besar di lingkungan UMY bisa memperkuat institusi Pascasarjana,” kata Gunawan.

Ia juga berharap, agar pengangkatan ini menjadi motivasi para akademisi Persyarikatan di tengah kesibukan memimpin Muhammadiyah untuk mengurus kepangkatan ini. []

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait