luthfi alfiandi
Terdakwa perusuh demo DPR RI, Luthfi Alfiandi.

Inisiatifnews – Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi menyebutkan bahwa kesalahan Luthfi Alfiandi adalah ikut melakukan kerusuhan di Senayan dengan mengenakan baju seragam sekolah, sementara ia bukan berstatus pelajar.

“Salah Luthfi (bukan pelajar) adalah merusuh dengan seragam pelajar saat pelajar asli sedang melakukan demonstrasi,” kata pria yang karib disapa Uki itu, Sabtu (14/12/2019).

Ia menilai bahwa ada sekelompok masyarakat yang masih mencoba membuat narasi seolah-olah Luthfi adalah pahlawan. Meskipun ada kebohongan sebelumnya bahwa Luthfi adalah pelajar, sementara faktanya tidak.

“Tapi jangan khawatir, ada yang berupaya menyesatkan narasi agar Luthfi tetap jadi pahlawan, bahkan Luthfi berbohongpun tetap dibela. Buat bahan jelekin pemerintah,” ujarnya.

Komentar Uki ini untuk menanggapi sebuah kicauan dari netizen yang juga Pengasuh PPA Yatim Dhuafa Assa’adah, Hilmi Firdausi. Ia mengunggah sebuah narasi tentang apa yang sebenarnya menjadi kesalahan Luthfi mengapa bisa dipenjara.

Tidak hanya membuat narasi, Hilmi juga mengunggah momentum mengharukan saat Luthfi mencium kening ibunya dan saat Luthfi berada di balik jeruji besi tahanan.

“Bu, salah Luthfi apa? Justru Luthfi menyelamatkan merah putih dr kobaran api. Luthfi membawa bendera tdk menyentuh tanah. Luthfi menutup muka dgn sang saka agar tak terkena gas air mata. Lalu knp Luthfi dituduh menistakan bendera merah putih ? Duhai penguasa…#BebaskanLuthfi,” tulis @Hilmi28, Kamis (12/12).

Perlu diketahui, bahwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andri Saputra menyampaikan bahwa identitas Luthfi Alfiandi bukan seorang pelajar, melainkan pengangguran yang menyamar menggunakan seragam sekolah dan ikut melakukan kerusuhan di aksi yang digelar di DPR RI pada 30 September 2019.

“Terdakwa bukan berstatus pelajar STM, terdakwa adalah seorang pengangguran yang melakukan penyamaran dengan menggunakan baju seragam sekolah untuk mengkelabui petugas keamanan yang menjaga aksi demo di DPR dan MPR RI,” kata Andri dalam penjelasannya di sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/12).

Di dalam materi tuntutannya, Andri juga mengatakan bahwa Luthfi dianggap melakukan perlawanan dengan kekerasan terhadap aparat yang sedang bertugas.

“Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seseorang pejabat yang menjalankan tugas secara sah atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya, yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu,” ujar Andri dalam materi tuntutannya.

Dalam perkara tersebut, Luthfi dijerat dengan Pasal 212 KUHP juncto Pasal 214 ayat (1) KUHP atau Pasal 170 ayat (1) KUHP atau Pasal 218 KUHP.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia