Di Panggung KASBI, Pengidap HIV Marah-marah

Aksi LGBT dan KASBI
Aksi kaum LGBT dan KASBI di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews.com – Salah satu pengidap HIV/AIDS, Ayu marah-marah di atas mobil komando Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) lantaran merasa tidak pernah mendapatkan pembinaan tentang bahaya penyebaran HIV dan kesehatan reproduksi dari instansi pemerintah terkait.

“Saya dan teman-teman perempuan yang terinfeksi HIV, kami tidak pernah diberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dan bagaimana penularan HIV,” kata Ayu dalam orasinya di Hari Perempuan Internasional, di Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020).

Bacaan Lainnya

Ia juga marah ketika saat ini obat-obatan yang menjadi makanan rutinnya untuk menyambung hidup pun sudah langka. Dan ia menuduh korupsi menjadi persoalan mengapa obat untuk para pengidap HIV sulit diakses di dalam negeri.

“Obat yang harus kami minum seumur hidup sedang krisis karena pemerintah korupsi pada obat yang harusnya diminum oleh perempuan HIV,” ujarnya.

Bahkan Ayu menyebut bedasarkan informasi yang ia terima secara nasional, obat antiretroviral (ARV) juga sulit didapat di Rumah Sakit.

“ARV adalah nyawa para pengidap HIV di seluruh indonesia. Stok habis ini mengancam saya dan saya hanya bisa minum sampai September. Kalau tidak minum lagi bahkan mungkin saya akan mati,” pungkasnya.

“Kekosongan obat ini bukan hanya di Jakarta saja tapi di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Dalam orasinya, ia berharap agar pemerintah memperhatikan nasib para pengidap HIV karena mereka adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang harus dilindungi hak-hak mereka.

Ayu pun menuturkan bahwa persoalan HIV juga harus menjadi perhatian masyarakat secara luas, karena ancaman penyebarannya tidak hanya sekedar persoalan hubungan seksual semata.

“Saya ingin sampaikan pada masyarakat hari ini bahwa HIV bukan rentan pada orang yang aktif seksual tapi kepada teman-teman perempuan nelayan petani, bukan hanya sekedar pekerja seks, LGBT dan Nafsah,” tukasnya.

Dan karena HIV ini, Ayu dan teman-temannya yang mengidap virus mematikan itu juga kehilangan hak akses sosialnya.

“HIV memiskinkan kami dan membuat kami kelompok yang tersingkirkan dan terbatasi akses kami bekerja dan pendidikan,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa di peringatan Hari Perempuan Internasional itu, dua elemen menggelar aksi, yakni KASBI yang fokus pada protes tentang Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Sementara elemen lainnya adalah dari Advokasi Gerakan Perempuan yang didominasi oleh kelompok LGBT yang fokus pada desakan pengesahan RUU Perlindungan Kekerasan Seksual (PKS) dan penolakan terhadap RUU Ketahanan Keluarga. []

Pos terkait