KSBSI Desak Pemerintah Perhatikan Buruh & Pekerja Perempuan

  • Whatsapp
20200325 181135
PHP Dev Cloud Hosting

Inisiatifnews.com. Wabah virus corona Covid-19 benar-benar menghantam seluruh negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia. Wabah ini mengguncang sektor politik, ekonomi dan sosial.

Tak ada yang tahu berapa lama pandemi ini akan berlangsung dan berapa banyak orang akan jatuh sakit dan meninggal. Akan tetapi, konsekuensi ekonomi dan politik dari wabah tersebut sudah mulai terlihat.

Bacaan Lainnya

Yang paling berimbas dari krisis ini adalah buruh, pemilik usaha kecil dan pekerja sektor informal. Sebagian besar usaha kecil dan sektor informal, mulai kelimpungan dan berhenti beroperasi sejak beberapa pekan lalu.

Nah, sebagian besar buruh dan pekerja sektor informal, adalah perempuan. Pendapatan kelompok ini terancam tertunda atau bahkan pembayaran nominal terutama untuk sektor informal dijadikan dengan sistem upah harian.

“Buruh dan kaum perempuan lah yang paling rentan terkena dampak dalam krisis ini. Pemerintah harus menyediakan kebijakan khusus untuk memberi perlindungan kepada kaum perempuan,” kata Eli Rosita Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) dalam keterangannya Rabu (25/03/2020).

Dampak lainnya, lanjut Eli, sebagian besar sekolah di Indonesia diliburkan dan menerapkan e-learning. Sekolah digital atau online ini mulai efektif, terutama di Jakarta dan 3 provinsi terdekat lainnya.

Hampir semua perempuan ibu rumah tangga dengan anak-anak kecil yang bersekolah di sekolah dasar dan menengah cukup sibuk menggunakan google schooling seperti “Google Classroom”, “Schoology” atau “Zoom” untuk anak-anak mereka.

Diingatkan Eli, tugas yang menumpuk dari sekolah membuat para pekerja perempuan ini sibuk setiap hari karena anak-anak kecil tidak memiliki gadget untuk mengakses internet dan pekerjaan rumah harus dilakukan online.

Saat ini, beban kaum pekerja perempuan kian berat. Selain harus bekerja dari rumah ataupun yang masih bekerja ke luar, juga harus bertanggung jawab merawat rumah sehari-hari. Kini tambah sibuk dengan uruaan sekolah digital untuk anak-anak mereka.

“Pekerja perempuan terutama ibu rumah tangga stress bukan karena terpapar virus, tapi karena kelelahan. Sebagian mereka mengatakan bahwa mereka akan mati karena stress tapi bukan karena virus. Pengeluaran menjadi dua kali lipat ditambah peralatan laptop atau komputer untuk menunjang PR anak-anak, tidak semua memilikinya,” ungkap Eli.

Memang, sambung Eli, karena 70 persen perusahaan ditutup, bekerja dari rumah menjadi efektif. Hanya saja di lain sisi, para perempuan yang menjadi PRT terancam kehilangan pekerjaan mereka karena pendapatan yang menurun.

“Perempuan juga berpotensi tinggi mengalami tekanan mental. Lebih mudah sakit dan tidak stabil. Perlu pendekatan khusus untuk menyesuaikan kehidupan baru mereka dan mampu mengelola beban mereka dengan cara yang lebih adil. Saya belum melihat pemerintah memberi perhatian khusus terhadap perempuan di saat krisis seperti ini, apakah memberikan paket stimulus, baik untuk mereka yang menderita saat ini akibat virus corona atapun bagi mereka yang langsung kehilangan pekerjaan karena di-PHK,” tandasnya. (INI)

Pos terkait