Mahasiswa Rantau Harap Perutnya Juga Diperhatikan Pemerintah

  • Whatsapp
Senantha
Kordinator Persatuan Mahasiswa Perantauan (PMP), Senantha.

Inisiatifnews.com Persatuan Mahasiswa Perantauan (PMP) meminta pemerintah pusat untuk memperhatikan nasib mahasiswa perantauan di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan mengikuti phisycal distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Hingga saat ini pemerintah belum memperhatikan nasib para mahasiswa perantauan. Banyak teman-teman kami mahasiswa perantauan hari ini kesulitan mencari makan dan kuota internet untuk belajar dari asrama atau sekretariat organisasi ekstra kampus dan kost-kostan,” kata Koordinator PMP, Senanatha, saat dimintai keterangan oleh awak media di Jakarta, Selasa (7/4/2020).

Bacaan Lainnya

“Semua karena dampak dari sejumlah aturan baru dan kebijakan dalam mengendalikan pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Sena menceritakan tentang keadaan mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan jauh dari rumah dan tidak bisa pulang kampung, dimana hidupnya saat ini dibilang memperihatinkan akibat aturan Work Form Home (WFH) dan belajar dari rumah.

“Mahasiswa perantauan saat ini hanya bisa makan satu kali sekali, bahkan terkadang tidak makan karena uang saku kami berkurang karena harus beli kuota atau beli HP yang bisa mengakses internet, bayar kost, dan sebagainya,” ujarnya.

Kondisi ini juga dikatakan Sena membuat mereka semakin terjepit karena larangan mudik dari pemerintah pusat.

“Sedangkan kami juga dihimbau atau dilarang mudik,” tambahnya.

Karena situasi seperti ini, ia sangat berharap agar pemerintah tidak menutup mata terhadap keberadaan mereka.

“Lalu jika Pemerintah tidak mau memperhatikan kami mahasiswa perantauan, kemana lagi kami harus mengadu dan mencurahkan isi hati ini,” curhatnya.

Perantauan asal Sukabumi, Jawa barat ini mengatakan seharusnya pemerintah mengerti dengan keadaan para mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan dan jauh dari rumah.

Ia juga meyakini para pejabat pemerintahan pun dahulu pernah merasakan yang saat ini dirasakan ratusan ribu mahasiswa perantau di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya.

“Jika seluruh kebijakan dan aturan ini dibuat sebagai langkah terbaik untuk mengendalikan Covid-19, kami berharap pemerintah juga tidak menghilangkan hak dasar hidup para mahasiswa perantauan,” pungkas Sena.

Senantha yang juga Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta itu mengancam akan mengajak seluruh mahasiswa perantauan mendatangi istana negara untuk meminta hak dasar hidup dan keselamatannya sebagai warga negara Indonesia kepada presiden Joko Widodo pada hari Jumat (10/4) jika suaranya ini tidak didengarkan.

“Kami datang ke istana untuk meminta hak dasar hidup dan keselamatan kami, bukan dalam rangka ujuk rasa atau demonstrasi, tapi dalam rangka agar kami mampu bertahan hidup di negara yang sudah merdeka sejak 1945 dan menganut sistem demokrasi,” tutupnya. [RED]


Pos terkait