Presiden Diminta Evaluasi Aksi Bagi-bagi Bingkisan di Jalan

  • Whatsapp
11006 jokowi bagi bagi sembako dari mobil untuk ojol instagramatjakartaterkini
Aksi Presiden Jokowi bagi-bagi sembako di kawasan Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Inisiatifnews.com Kegiatan aksi bagi-bagi bingkisan berlogo istana oleh Presiden Joko Widodo di Jalanan dikritik banyak masyarakat. Selain tidak efektif juga rentan menimbulkan kerumunan orang, apalagi di tengah pandemik Covid-19 seperti saat ini.

“Kegiatan lama presiden yang senang membagi-bagi hadiah kepada masyarakat setiap melakukan perjalanan, sebaiknya dievaluasi di masa pandemik ini. Sebab sangat rentan pada terjadinya kerumunan dan pengumpulan orang,” kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti dalam siaran persnya, Minggu (12/4/2020).

Bacaan Lainnya

Jika aksi itu tidak dievaluasi dan masih saja dilakukan oleh Presiden, ia menilai justru akan membuat masyarakat menjadi keluar rumah atau ke jalanan jika mereka mendapat informasi bahwa presiden akan melewati jalan umum mereka.

“Dan hal ini juga dapat mengundang terjadinya kerumunan,” ujarnya.

Apalagi situasi saat ini di Jakarta misalnya, tengah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), serta secara nasional tengah dijalankan social distancing atau physical distancing. Maka dampak dari aksi “dermawan” Presiden di jalanan itu justru tidak sesuai dengan protokol tersebut.

“Tidak sesuai dengan anjuran presiden agar masyarakat menjaga jarak dan tidak perlu berada di luar rumah jika tidak ada hal yang amat sangat mendesak dan perlu,” tuturnya.

“Saat yang sama juga kegiatan ini dapat mengundang risiko kepada Presiden sendiri. Kita tidak tahu status para penerima, apakah sehat atau sedang mengalami sakit,” imbuhnya.

Selain itu, Ray Rangkuti juga memandang aksi bagi-bagi bingkisan ala Presiden di jalanan itu juga tidak ada konsep yang jelas.

“Tak jelas pula apa tujuan pentingnya pembagian hadiah di tengah jalan seperti ini kepada masyarakat, khususnya di tengah pandemik Covid-19 ini. Apakah ini hendak menyatakan bahwa presiden memiliki kepakaan pada derita masyarakat kecil, apakah presiden hendak membantu beban mereka dengan hadiah-hadiah itu, atau sebagainya,” tukasnya.

“Dalam kondisi normal, mungkin tindakan ini bisa dilihat sebagai kedekatan publik dengan pemimpinnya. Tapi dalam keadaan darurat seperti sekarang, tindakan kebaikan dan kedekatan baiknya lebih ditingkatkan mutunya menjadi lebih kuat dan memiliki implikasi besar,” tambahnya.

Peningkatan kedekatan Presiden kepada rakyat yang dimaksud Ray adalah melalui kebijakan dan policy yang jelas dan berpihak kepada rakyar.

“Yakni membuat kebijakan yang memastikan bahwa pandemik ini akan berlalu, dan masyarakat kita mendapat jaminan pangan selama pandemik ini berlangsung,” pungkasnya.

Bagi Ray, lompatan seperti inilah yang sedang ditunggu masyarakat Indonesia sampai hari ini. Berbagai kebijakan yang telah ditetapkan oleh presiden seperti belum terlihat implikasinya di tengah masyarakat.

“Salah satunya soal masih minimnya APD untuk para tenaga medis dan rapid test yang dinilai banyak orang masih jauh dari jumlah ideal. Langkah ini amat perlu agar kita terhindar dari musibah ini,” tutupnya. []


Pos terkait