Gara-gara Cuitan Ini, Refly Harun Dianggap Sedang Lapar

  • Whatsapp
refly harun
Hasil tangkap layar kicauan Refly Harun di akun twitternya @ReflyHZ.

Inisiatifnews.com – Mantan Komisaris Utama PT Pelindo I, Refly Harun menyebut bahwa bahwa siapapun yang memberikan kritik kepada para pengritik penguasa adalah buzzer dan fans club.

“Intelektual itu kritis pada kekuasaan. Yang kritis pada yang kritis pada kekuasaan itu namanya buzzer atau fans club,” kicau Refly Harun di akun twitternya @ReflyHZ, Rabu (29/4/2020).

Bacaan Lainnya

Sontak kicauan itu mendapatkan respon keras dari netizen. Ada yang mengingatkan Refly, bahwa sekalipun seorang intelektual namun tidak peka terhadap kritikan terhadap sebuah pandangannya terhadap perkara sesuatu, maka ia pun bukan sebagai seorang intelek, melainkan buzzer pula.

“Yang kritis pada yang kritis pada kekuasaan belum tentu buzzer bung, karena pendapat Anda belum tentu benar. Jika Anda merasa sebagai intelektual tapi tidak bisa terima perbedaan pendapat, Anda bukan intelektual tapi buzzer yang berasa sebagai intelektual,” tulis netizen pemilik akun @MZubir_ID.

Selain itu, ada pula yang menyayangkan sekelas Refly Harun tidak bisa mendefinisikan sebuah kata “kritik”.

“Ketika seorang yang mengaku intelek dengan mengaku mempunyai intelektual yang mumpuni namun tidak dapat menterjemahkan definisi kritik itu sendiri itu namanya KEBANGETAN,” tulis @HmfaqihA.

Kemudian ada lagi netizen yang berkomentar bahwa seseorang yang anti terhadap kritik adalah sampah busuk.

“Yang kritis terhadap kekuasaan karena kehilangan jabatan itu SAMPAH, bukan intelektual. Apalagi kalau tidak mau dikritisi orang lain : itu SAMPAH BUSUK !!!,” tulis @dikgoen.

Tidak hanya mereka saja, bahkan Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya pun menyebut bahwa pola pikir Refly Harun cukup berbahaya jika ditelan mentah-mentah.

“Yang kritis pada kekuasaan jadi nggak boleh dikritik? Ngeri amat belum berkuasa dah otoriter…,” tulis @yunartiwijaya.

Selain itu pula, ada netizen yang sampai menilai statemen Refly Harun itu muncul karena dipecat dari jabatan sebelumnya sebagai Komisaris.

“Dia menyebut diri sebagai intelektual karna kritis pada kekuasaan tapi menyebut yang kritis ke dia sebage buzzer. Lapar memang bikin orang lupa ngaca,” tulis @ApriliaLin.

Refly Harun adalah seorang ahli hukum tata negara. Alumni Universitas Gadjah Mada itu sempat merasakan empuknya jabatan sebagai Komisaris Utama di dua perusahaan BUMN berbeda.

Di saat masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, ia diberikan jabatan sebagai Komisaris Utama PT Jasa Marga. Namun pada tanggal 5 September 2018 Refly diberhentikan sebagai Komisaris Utama melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Jasa Marga. Kemudian oleh Menteri BUMN Rini Sumarno saat itu memberikan jabatan baru kepada Refly sebagai Komisaris Utama di PT Pelindo I.

Sementara itu, pada tanggal 20 April 2020 Refly diberhentikan sebagai Komisaris Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I oleh Menteri BUMN Erick Thohir melalui RUPSLB PT Pelindo I melalui SK-123/MBU/04/2020. [NOE]

Pos terkait