Kemenag Apresiasi Umat Patuhi Larangan Ibadah Bersama Selama Pandemi

  • Whatsapp
Zainut Tauhid Sa'adi
Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa'adi.

Inisiatifnews.com – Kementerian Agama (Kemenag) mengaparesiasi dan menghargai umat beragama yang mengikuti anjuran para tokoh agama dan pemerintah untuk melaksanakan ibadah di rumah dalam rangka menerapkan physical distancing demi menghambat penyebaran Covid 19.

“Kami hargai dan apresiasi. Hal tersebut sebagai bentuk ketaatan beribadah sebagai umat beragama dan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara,” kata Wakil Menteri Agama KH Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangannya kepada Inisiatifnews.com di Jakarta, Jumat (01/05/2020).

Bacaan Lainnya

Larangan beribadah di masjid dan tempat ibadah lainnya dalam kondisi pandemi Covid 19, lanjut Zainut, semata untuk menjaga keselamatan jiwa, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

“Menjaga keselamatan jiwa atau hifdzu an-nafs merupakan salah satu kewajiban utama dalam beragama,” sebut Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Zainut menambahkan, menjaga jiwa juga erat kaitannya untuk menjamin atas hak hidup manusia seluruhnya tanpa terkecuali. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 32 yang artinya “dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Zainut pun meluruskan, ada pemahaman masyarakat yang salah terhadap penerapan pembatasan dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Yakni membandingkan terjadinya pembatasan di tempat ibadah dengan tempat lainnya seperti pabrik, pasar atau tempat berkerumun lainnya.

Jika di tempat ibadah penerapannya dilaksanakan secara ketat, misal dengan digembok atau dengan tindakan pembubaran ibadah. Sementara di tempat lain dilakukan dengan longgar.

Narasi ini, kata Zainut, menimbulkan salah paham seakan ada diskriminasi perlakuan. Padahal, seharusnya antara pembatasan di tempat ibadah dengan pabrik atau pasar tidak diperhadapkan. Lantaran berkaitan dengan upaya penyelamatan jiwa umat manusia. Sehingga, harus dimaknai sebagai kewajiban dan perintah agama, yang berlaku untuk siapa saja dan dimana saja.

“Umat beragama seharusnya bersyukur karena dari sekian pembatasan yang ada, umat beragama termasuk yang paling banyak menaatinya, sehingga keselamatan akan kembali kepada dirinya,” pungkas Wamenag. (FMB)

Pos terkait