Ini Dua Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19 

  • Whatsapp
Arif Satria
Rektor IPB, Prof Arif Satria. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.comWabah Korona yang tak kunjung usai membuat seluruh negara mengambil kebijakan. Mulai dari menutup akses masuk maupun keluar wilayah (lockdown), membatasi kontak fisik maupun sosial, hingga mewajibkan warganya agar tetap diam di rumah. 

Kondisi ini berdampak besar terhadap berbagai bidang, utamanya perekonomian. Berdasarkan rilis dari International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 hanya mencapai minus tiga persen. Tentunya hal yang sama juga dialami oleh Indonesia, apabila tidak ada gerakan nyata dalam penanganan Covid-19 diperkirakan juga akan mengganggu ketahanan pangan.

Bacaan Lainnya

Namun di sisi lain, situasi ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia menuju kemandirian pangan. Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Arif Satria.

“Pertanian adalah sektor strategis, memang kalau kita lihat dari hasil diskusi globalisasi Faktor Pandemi Covid-19 semakin mengemuka karena negara-negara di dunia kini, cenderung menahan stok pangan. Ini akan menjadi momentum dalam kemandirian pangan,” ujar Arief melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/5/2020).

Sesuai pernyataan dari Kementerian Pertanian RI, suplai pangan masyarakat dipastikan aman hingga bulan Agustus 2020. Itu berdasar dengan gambaran untuk komoditi beras mencapai 8 juta ton berikut bahan pokok lainnya seperti bawang merah, cabai, daging ayam, telur. Sedangkan, pada bulan Juni 2020 (beras) juga mengalami surplus hingga 7,4 Ton.

Arief menuturkan, di sisi lain ada permasalahan yang patut diwaspadai yaitu ditemukannya sejumlah wilayah masih mengalami defisit pangan. Apabila ditelaah lebih jauh, kondisi tersebut muncul bukan disebabkan oleh siklus produksi pangan tetapi karena pendistribusian yang mengalami hambatan.

“Ternyata distribusi terhambat, karena dampak Covid-19 yaitu pembatasan mobilitas, social distancing, PSBB hingga menyebabkan kantor-kantor pemasok tutup hingga akhirnya pembatasan operasional pasar yang dibatasi,” bebernya.

Kendala tersebut, dinilainya sangat serius pasalnya masyarakat yang mengalami imbas. Terlihat dari kenaikan harga pangan pokok dari petani yang dirasakan mencapai sepertiga, dari harga normal.

Arif menegaskan, permasalahan dalam hal produksi dan distribusi di tengah wabah Korona ini diperlukan solusi baik jangka pendek maupun menengah. 

“Solusi jangka pendek, yaitu kebijakan logistik dalam hal pasok pangan dengan melibatkan BUMN, lembaga koperasi dan swasta hingga nasional,” katanya.

Kebijakan tersebut harus diambil pemerintah agar distribusi pangan kembali normal. Kemudian petani juga bisa menjual hasil panennya seperti biasa dimana kondisi sebelum Covid-19 melanda, sementara konsumen kembali mendapatkan harga pangan yang terjangkau. 

“Keterlibatan Koperasi dan BUMDES juga diperlukan dalam memperluas akses petani sehingga mampu memperpendek rantai pasok pangan,” jelasnya.

“Secara nyata kami bersama instansi swasta yaitu Astra, sudah melakukan ini dengan memberdayakan 53 Desa di Jabar. Akses petani juga kita buka dengan pemasaran daring lewat berbagai market place,” imbuh Arif.

Sementara itu, untuk solusi jangka menengah yaitu pergerakan pangan masyarakat untuk skala rumah tangga yang dinilai Arief mampu menangani pangan ketika terjadi krisis.

“Dulu banyak masyarakat memelihara ayam, kolam ikan, tanaman holtikultur sebagai cadangan pangan. Di sini jelas terlihat bahwa pertanian, skala perkotaan harus digalakkan. Gerakan ini murah dan rendah karbon, juga efektif untuk akses pangan beberapa komunitas masyarakat perkotaan,” paparnya.

Hal senada juga diutarakan Sugiharto, Chief Financial Officer (CFO) of Indonesia Future. Dia mengatakan dibutuhkan dua kekuatan pemerintah dalam mengentaskan permasalahan ketahanan pangan, di tengah keterpurukan perekonomian dampak dari wabah Covid – 19 yaitu APBN dan BUMN.

“APBN mampu memperkuat ketahanan pangan dengan penyaluran stimulus atau subsidi, kepada petani dalam hal pupuk. Kemudian BUMN juga membantu menjamin stok beras dan gula,” paparnya.

Pria yang sempat menjabat sebagai Menteri BUMN RI periode 2004 – 2007 ini menambahkan, peran BUMN juga mampu memobilisasi kecukupan pangan setelah Covid-19 nantinya berakhir. 

“Bisa kita ambil contoh, saat Tsunami tahun 2004 lalu hanya BUMN saja yang siap menangani dalam hal akses penanganan. Apalagi, Covid-19 saya kira seluruhnya bisa ditangani. Jangan lupakan juga peran kampus-kampus pertanian, harus digandeng,“ pungkasnya. [NLL]

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait