Indonesia Kembali Bekerja di Tengah Pandemi, LSI Denny JA Sarankan Lima Langkah Ini

  • Whatsapp
IMG 20200516 WA0013
PHP Dev Cloud Hosting

Inisiatifnews.com – Mulai Juni 2020, secara bertahap, dengan mematuhi lima kisi-kisi, Indonesia saatnya memulai kembali bekerja di luar rumah. Sudah kurang lebih 5 minggu, sejak pertama kali PSBB diberlakukan di Indonesia pada 10 April 2020, aktivitas warga dan bisnis dibatasi melalui aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kini data nasional menunjukan tren penambahan kasus baru terlihat mendatar atau statis di kurva, di sejumlah wilayah justru trennya mulai menurun.

Bacaan Lainnya

“Namun sebaliknya dampak negatif terhadap ekonomi memuncak. Data menunjukan peningkatan jumlah pengangguran dan penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Sudah memenuhi syarat untuk saatnya Indonesia kembali bekerja,” ungkap peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama Masloman saat memaparkan risetnya di Jakarta, Sabtu (16/5).

Riset dilakukan dengan metode kualitatif yaitu studi data sekunder periode. Tiga sumber data yang digunakan: Data Gugus Tugas, Data Worldometer, dan data WHO. LSI Denny JA menemukan, Indonesia telah memenuhi syarat untuk membuka kembali aktivitas warga dan ekonomi. Namun tak bisa dilakukan serentak. Harur bertahap. Karena grafik kasus setiap wilayah berbeda-beda setelah PSBB diberlakukan. Wilayah yang sudah layak dibuka kembali termasuk Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis Indonesia. Dengan demikian diharapkan dilonggarkannya PSBB, tak berakibat pada makin terpaparnya warga terhadap penyakit Covid-19 dan tidak makin terkaparnya ekonomi rumah tangga dan nasional Indonesia.

LSI Denny JA menemukan bahwa setidaknya ada 3 latar belakang atau landasan mengapa Indonesia perlu bekerja kembali secepatnya? Pertama, sebelum Indonesia, telah banyak negara di dunia yang telah membuka kembali aktifitas warga dan ekonominya. Di bulan April, sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Austria, Norwegia, Denmark, Yunani, dan juga New Zealand (non Eropa), telah melonggarkan kebijakan “lockdown”-nya.

Pada awal Mei, diikuti oleh negara Eropa yang lain, seperti Portugal, Spanyol, Belgia, Italia dan Perancis. Di antara negara-negara tersebut, Italia, Spanyol, Perancis dan Jerman adalah negara yang di awal pandemi memiliki kasus positif dan meninggal paling banyak di Eropa. Negara-negara tersebut membuka kembali pembatasan sosial (lockdown) setelah mereka melewati puncak pandemi, yang terlihat dari data kurva kasus harian yang menurun (driven by data).

Dalam kebijakan membuka kembali aktifitas warga dan ekonomi, sejumlah negara tersebut punya detil-detil kebijakan yang berbeda-beda. Namun ada persamaan dari kebijakan aktifitas ekonomi yang dibolehkan. Di antaranya; usaha kecil menengah, toko-toko kebutuhan pokok harian, toko buku, toko pakaian, dan taman publik dibolehkan mulai dibuka dengan tetap menjaga aturan social distancing. Namun bar, restoran dan kafe belum diijinkan buka hingga Juni 2020.

Kedua, karena vaksin baru ditemukan paling cepat 12 bulan atau satu tahun lagi. Inilah mengapa Indonesia harus kembali bekerja karena tak mungkin menunggu hingga vaksin benar-benar ditemukan. Menurut para pakar, termasuk Dr. Anthony Fauci, pakar utama penyakit infeksi Amerika Serikat, vaksin paling cepat ditemukan 12 bulan sejak virus diteliti. Artinya jika berhasil antara Februari hingga Juni 2021 vaksinnya baru tersedia. Proses produksi dan distribusi juga memakan waktu hingga vaksin tersebut bisa digunakan di Indonesia.

Sementara hingga Mei 2020, dilaporkan bahwa efek ekonomi Corona mulai terasa di Indonesia. APINDO melaporkan, kurang lebih 7 juta karyawan yang di PHK pada Mei 2020. APINDO juga mengingkatkan, ada 30 juta karyawan di bidang properti yang juga terancam di PHK jika pandemi belum bisa diatasi. Artinya jika aktivitas ekonomi tidak secara bertahap dimulai maka rakyat Indonesia bisa menderita akibat terkaparnya ekonomi rumah tangga. Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan ekonomi. Selain angka pengangguran yang makin tinggi, efek ekonomi pandemi corona yang terasa adalah turunnya pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target.

“Ini dapat mengakibatkan dampak ekonomi ke semua sektor. Jika aktivitas ekonomi tak segera dibuka kembali, maka pemulihan ekonomi Indonesia akan melalui jalan yang panjang dan terjal,” imbaunya.

Lima Kisi-kisi Indonesia Kembali Bekerja

Hanya saja, lanjut Ikrama, dibukanya kembali aktivitas warga dan ekonomi harus dilakukan dengan bertahap atau gradual. Belajar best practice dari negara yang sudah lebih dahulu, dituntun dengan data dan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Dari riset yang dilakukan, LSI Denny JA menawarkan 5 kisi-kisi untuk Indonesia kembali kerja. Kelima kisi-kisi tersebut antara lain;

Pertama, dimulai dari daerah yang grafik tambahan kasus harian positifnya menurun. Riset LSI Denny JA, sebelumnya, ada 4 wilayah yang masuk ke dalam tipologi B. Yakni wilayah yang tambahan kasus hariannya menunjukan penurunan dari waktu-waktu meski tak drastis pasca pemberlakuan PSBB. Keempat wilayah tersebut adalah DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung Barat. Namun selain itu, ada wilayah yang tidak memberlakukan PSBB, namun tren kasus hariannya menurun, yaitu Provinsi Bali. Artinya bahwa kelima wilayah ini, dari riset LSI Denny JA, telah memenuhi syarat untuk dibuka kembali aktivitas warga dan ekonomi.

Kedua, yang usianya rentan terkena virus dan rentan angka kematian tetap di rumah. Sementara usia yang tidak rentan dibolehkan bekerja kembali di luar rumah. Data Indonesia menunjukan bahwa angka kematian akibat virus Corona paling tinggi terdapat pada usia di atas 45 tahun mencapai di atas 80 persen dari total jumlah kematian Covid-19.

“Apalagi Satuan Gugus Tugas Nasional telah mengumumkan, mereka yang usia dibawah 45 tahun boleh kembali kerja. Imbauan dan kebijakan pemerintah tersebut punya legitimasi data dan keilmuwan,” sebutnya.

Ketiga, data menunjukan tingkat kematian juga tidak proporsional bagi mereka yang punya penyakit penyerta seperti hipertensi, sakit jantung, sakit paru, diabetes, lebih rentan terhadap kematian dibanding mereka yang tak punya riwayat penyakit tersebut. Data dunia juga menunjukan gejala yang sama Artinya bahwa pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan, mereka yang dibolehkan bekerja di luar rumah yang secara klinis tak punya penyakit penyerta kronis.

Keempat, memulai gaya hidup baru di era “new normal”. Warga diijinkan kembali beraktifitas namun menjaga protokol kesehatan. Aturan social distancing tetap berlaku ketat, menggunakan masker ketika keluar rumah terutama di fasilitas dan transportasi publik, sering mencuci tangan, tak bersalaman dulu dan lainnya. Dunia usaha juga mulai membiasakan diri untuk menggunakan teknologi komunikasi untuk kepentingan bisnisnya.

Kelima, semua pihak harus berperan serta, mengambil bagian menjaga agar protokol kesehatan terjaga ketika kembali beraktifitas. Tak hanya pemerintah, baik pusat maupun daerah, pemimpin dunia usaha, tokoh masyarakat dan agama, harus terlibat aktif mengedukasi dan mengawasi.

Kembali beraktifitas dengan tetap menjaga ketat protokol kesehatan sangat penting untuk mencegah melonjaknya kasus baru dan juga mengantisipasi datangnya gelombang kedua pandemi. China, Korea Selatan dan Jerman melaporkan bahwa terdapat cluster kasus baru pasca dibukanya lockdown. Dunia punya pengalaman Flu Spanyol tahun 1918 yang menunjukan bahwa gelombang kedua lebih membahayakan dan lebih banyak korban dibanding gelombang pertama flu tersebut.

“Pengalaman tersebut menjadi warning bagi Indonesia dan dunia. Pemerintah harus meningkatkan kemampuan untuk memperbanyak jumlah test harian, melacak penyebaran, menyetop, melakukan isolasi, dan mengobati pasien terpapar Corona,” pungkas Ikrama. (INI)

Pos terkait