Medos Sarana Tanam Nilai Pancasila, Bukan Penghancur Martabat Manusia

  • Whatsapp
Benny Susetyo
Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Kasus penyebaran berita hoaks di Indonesia kian hari kian masif terjadi. Data yang dihimpun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan bahwa terdapat 800.000 situs penyebar berita hoaks dan pada tahun 2017 Kominfo sudah memblokir sedikitnya 6.000 situs penyebar berita hoaks alias disinformasi di Indonesia.

Baru-baru ini tengah beredar kabar foto di platform media sosial Facebook yang mengklaim bahwa Presiden Joko Widodo mengenakan sepatu di dalam masjid. Bahkan disebutkan dalam klaim tersebut, Jokowi sedang meninjau Masjid Baiturrahim di kompleks Istana Kepresidenan sebagai persiapan menuju tatanan normal baru yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Setelah ditelusuri informasi tersebut merupakan hoaks.

Bacaan Lainnya

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo angkat bicara mengenai permasalahan hoaks ini. Menurutnya maraknya berita hoaks saat ini menunjukan turunnya etika dalam media sosial dalam berpikir, bertindak, dan berelasi.

“Marak berita hoaks dengan menggunakan rekayasa foto dan data yang tidak berdasarkan informasi yang tidak tepat menunjukan etika media sosial tidak jadikan acuan berpikir, bertindak, berelasi,” kata Benny, Minggu (7/6/2020).

Benny menekankan bahwa Media sosial seharusnya menjadi sarana memajukakan nilai kemanusian untuk mempererat persaudaram dan berbagi ide dan gagasan.

Selain itu menurutnya, keutamaan menggunakan media sosial harus mengedepankan etika kepantasan publik. Kemudian di dalam menyampaikan pesan atau gagasan hendaknya mengedapan fakta, data, informasi yang benar. Bukan malah sebaliknya, yakni menebarkan kebencian dan merusak persatuan.

Oleh karena itu, tokoh agama tersebut menyebut bahwa sangat dibutuhkan kesadaran para pengguna media sosial untuk mengedapankan nilai0nilai moralitas publik.

“Mengembalikan kembali media sosial sebagai sarana memajukkan kemanusiaan, bukan sebagai alat menghancurkan martabat kemanusian,” tegas Benny.

Keutaman Pancasila ketika para pengguna media sosial memiliki tanggung jawab menjaga persatuan bangsa dan tidak menebarkan virus kebencian yang berbau SARA.

“Insan mengamalkan Pancasila memiliki pengetahuan takut akan Tuhan menjadi cara berpikir, bertindak, berelasi dalam menyampaikan pendapatnya dan memberi informasi ke publik lewat media sosial,” tutup Benny. [IM/RED]

Pos terkait