BPIP: Pancasila dan Agama Tak Bisa Dipisahkan

2537d logo2bgaruda2bpancasila

Inisiatifnews.com Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo khawatir dengan narasi ujaran kebencian di media sosial yang membenturkan antara Pancasila dan Agama.

“Padahal Pancasila tidak bisa dibenturkan dengan agama karena dua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan atau dibenturkan,” ujar Romo Benny saat mengadiri Focus group discussion Group dalam rangka kegiatan penelitian Pengembangan Strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Implementasi Nilai-Nilai Pancasila yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu (10/6/2020).

Bacaan Lainnya

Selain itu, Benny menekankan, semua pihak mesti mengambil alih ruang publik khususnya di media sosial dengan menampilkan kedamaian dalam keragaman agar ujaran kebencian yang merusak persatuan bisa dikalahkan.

“Contoh-contoh kerukunan harus ditampilkan. Seperti yang dikatakan oleh Soekarno bahwa ketuhanan yang berkebudayaan. Pemerintah bersama masyarakat harus mampu merebut dan mengisi ruang publik dengan contoh kerukunan dan kedamaian,” ungkap Romo Benny.

Terkait maraknya agama digunakan untuk kepentingan politik khususnya dalam Pilkada dan sebagainya, harus ada kesepakatan antara Bawaslu, KPU, BPIP untuk membuat etika kepatuhan agar hal tersebut tidak terulang. 

“Supaya agama tidak dijadikan alat kepentingan politik. Etika itu seperti tidak adanya unsur SARA dan tidak mempertentangkan ideologi,” ujar Romo Benny.

Selain itu, rohaniawan Katolik ini meminta, penanaman nilai Pancasila di era digitalisasi harus disesuaikan dengan generasi milenial. Penanaman Pancasila ini bisa dikolaborasikan dengan olah raga, wisata, kesenian, hingga industri kreatif. 

Ditegaskannya, industri hoaks saat ini marak akibat kurangnya pemahaman dalam memfilter informasi. Hoax selama ini sudah banyak memakan korban. Butuh pendidikan kritis yang dimulai dari sekolah dasar. 

“Harus ada pendidikan dalam penggunaan teknologi dan media sosial ditanamkan sejak dini seperti di sekolah dasar. Tujuannya bisa memilih informasi benar dan salah. Juga untuk media massa harus memperhatikan etika dalam bermedia agar tidak menimbulkan perpecahan dan memberikan infomasi yang tidak berdasarkan fakta,” pungkasnya. (INI)

Pos terkait