Kaum Radikal Coba Ambil Alih Ruang Publik dan Generasi Milenial

  • Whatsapp
Radicalism radikalisme 800x445 1
Ilustrasi.

Inisiatifnews.com Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo menerangkan, radikal bisa diartikan menjadi dua positif dan negatif. Radikal dalam arti negatiflah yang berbahaya.

“Dalam arti positif orang yang beriman pastilah radikal. Akan tetapi radikal dalam hal negatif adalah agama yang dimanipulasi oleh kepentingan politik,” Romo Benny saat menjadi pembicara dalam seminar web yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Indonesia, Jumat (12/6/2020).

Bacaan Lainnya

Seminar yang bertemakan “Mencabut Radikalisme dan Membumikan Pancasila” ini dihadiri oleh lebih dari 80 perserta baik dari dalam kampus maupun pihak luar kampus.

Pendiri SETARA Institute ini mengatakan, bahwa bangsa Indonesia patut bersyukur mempunyai Pancasila. Karena dengan Pancasila, persatuan dan gotong royong menjadi ruh bangsa dalam menghadapi semua masalah dan tantangan.

“Bangsa Indonesia beruntung mempunyai Pancasila. Ruh bangsa yaitu gotong royong dan persatuan menjadi kekuatan besar dalam melawan semua permasalahan,” ujarnya.

Selain itu, Rohaniawan Katolik ini menjelaskan, pembumian Pancasila harus diberikan sejak dini dan masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Pendekatannya juga harus disesuaikan dengan apa yang digandrungi oleh generasi milenial sekarang.

“Pendidikan Pancasila harus masuk dalam kurikulum tetapi dalam pendekatannya harus disesuaikan dengan apa yang disukai generasi milenial tidak lagi doktrin. Contohnya seperti pendekatan dalam ranah olahraga, kesenian, dan kuliner,” imbau Romo Benny.

Narasi di ruang publik juga harus diambil alih oleh narasi positif sebagai alat untuk melawan konten negatif khususnya di media sosial. 

Hal senada disampaikan oleh kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar. Dalam penjelasannya, Kepala BNPT ini menjelaskan bahwa narasi kebangsaan dan Pancasila harus menang dan tidak boleh kalah di ruang publik.

“Narasi kebangsaan dan Pancasila harus dan tidak boleh kalah di ruang publik. Saat ini kaum radikal sedang mencoba mengambil alih ruang publik dan mencoba mengambil generasi muda Indonesia. Ini menjadi kekhawatiran eksistensi bangsa dan negara,” tandasnya.

Selain itu, Boy Rafli juga menyatakan, BNPT sangat fokus pada nilai-nilai Pancasila. 

“Jadi semuanya berangkat dari keberagaman dan kebhinnekaan bangsa indonesia dan generasi muda memiliki kewajiban dalam melestarikan itu. Generasi penerus punya kewajiban melestarikan nilai-nilai luhur bangsa,” jelasnya.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komarudin Hidayat menjalaskan, Indonesia adalah negara yang sangat plural dan beragam. Nilai-nilai Pancasila secara simbolik harus masuk dalam kehidupan masyarakat. (INI)

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait