Gelar Aksi di Kemendikbud, Mahasiswa Minta Diskon Biaya Kuliah 50% Karena Covid-19

  • Whatsapp
aksi mahasiswa
Aksi long march Mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu (GMJB) di Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Inisiatifnews.com – Ratusan Mahasiswa yang tergabung di dalam Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu (GMJB) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Dalam aksinya, mereka menyayangkan bahwa penanganan COVID-19 untuk sektor pendidikan tidak menyentuh pada biaya perkuliahan, apalagi perekonomian nasional juga terdampak pandemi tersebut, sehingga kemampuan mereka membayar biaya kuliah juga terganggu.

Bacaan Lainnya

“Kebijakan (penanggulangan Covid-19) ini tidak menyentuh persoalan biaya pendidikan selama proses belajar secara online, terutama perguruan tinggi swasta,” kata koordinator aksi, Donny Manurung dalam siarannya yang diterima Inisiatifnews.com, Senin (22/6/2020).

Menurutnya, seharusnya pemerintah juga memikirkan bagaimana biaya kuliah yang terus berjalan dan menjadi tanggungan Mahasiswa, sementara situasi yang terjadi saat ini masih sangat sulit.

Ditambah lagi, sepanjang pandemi COVID-19 kegiatan proses belajar mengajar dilakukan secara daring tanpa hadir di kelas seperti kegiatan perkuliahan konvensional. Dengan kondisi ini, artinya Mahasiswa tidak menggunakan fasilitas kampus sama sekali. Oleh karena itu, seharusnya ada kebijakan yang bisa diambil terkait dengan biaya perkuliahan karena situasi tersebut.

“Jika proses belajar mengajar dilakukan online, semestinya pemerintah juga memperhatikan persoalan biaya yang harus dibayar, karena para pelajar dan Mahasiswa tidak menggunakan fasilitas kampus secara normal,” ujarnya.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, ada beberapa kampus yang tidak memberikan kebijakan keringanan biaya pendidikan bagi Mahasiswanya karena dampak COVID-19 ini. Oleh karena itu, ia pun meminta kepada pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk turun tangan membantu para Mahasiswa itu.

“Kami meminta Kemendikbud memberikan teguran dan sanksi kepada Universitas yang represif dan anti kritik terhadap Mahasiswa,” tuntutnya.

Selain itu, Donny juga meminta kepada Kemendikbud yang dipimpin oleh Nadiem Anwar Makarim untuk memberikan perhatian serius kepada dunia pendidikan, agar tidak menjadi ladang bisnis dan dikomersialisasi semata.

“Kami sampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk tidak menjadikan dunia pendidikan sebagai ladang komersialisasi,” imbuhnya.

Ada 6 poin tuntutan yang disampaikan di dalam aksi yang diikuti oleh 10 kampus dan belasan organisasi Cipayung Plus itu. Antara lain ;

1. Stop komersialisasi dan liberalisasi dunia pendidikan.
2. Mendesak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat regulasi potongan biaya pendidikan sebesar 50% di tengah masa pandemi.
3. Hentikan intimidasi dan kriminalisasi terhadap Mahasiswa.
4. Berikan transparansi status perguruan tinggi berdasarkan UU Nomor 12 tahun 2012 Pasal 78.
5. Kembalikan pendidikan yang membebaskan bukan menindas.
6. Mengecam seluruh pihak yang memanfaatkan situasi dan kondisi hari ini untuk kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan.

gerakan mahasiswa jakarta bersatu
Aksi bakar ban oleh Mahasiswa di depan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sementara dalam pantuan Inisiatifnews.com, aksi tersebut berlangsung aman dan terkendali walaupun mengabaikan protokol kesehatan yakni phyisical distancing. [NOE]

Pos terkait