Seret Nama Presiden Jokowi, Simpati Publik ke Novel Baswedan Kian Pudar

  • Whatsapp
20200717 203209

Inisiatifnews.com – Novel Baswedan menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat cuitannya di Twitter. Novel berkicau setelah dua orang terdakwa kasus penyiraman air keras terhadapnya, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis, menerima vonis Kamis (16/7).

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara Djuyamto memvonis terdakwa Ronny Bugis dengan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara. Vonis yang diberikan ketua majelis hakim terhadap Ronny Bugis lebih ringan dari terdakwa Rahmat Kadir Mahulette yang divonis 2 tahun penjara.

Bacaan Lainnya

Anggota Brimob Polri itu dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan pidana penganiayaan terhadap penyidik senior KPK itu sebagaimana diatur dalam Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Sandiwara telah selesai sesuai dengan skenarionya. Point pembelajarannya adalah Indonesia benar-benar berbahaya bagi orang yang berantas korupsi. Selamat Bapak Presiden @jokowi. Anda berhasil membuat pelaku kejahatan tetap bersembunyi, berkeliaran & siap melakukannya lagi!” sindir Novel melalui akun Twitternya @nazaqistsha, Jumat (17/7).

Kicauan Novel telah diretweet 13 ribu netizen dan disukai 33 ribu warganet. Cuitan Novel pun banjir pro dan kontra. Banyak netizen yang turun simpatinya terhadap penyidik senior KPK ini karena menyeret-nyeret nama Presiden Jokowi.

“Kalau bapak benci dengan Pak @jokowi. Jangan sampai kebencianmu bisa berbuat tidak adil. Bisa-bisanya kasus dirimu dilimpahkan diimbaskan kepada orang lain. Presiden pun punya aturan hukum, begitu bernegara,” kicau akun @moekti_pi.

Serupa netizen @djokoAdv pun heran. “Presiden itu bukan ngurusi kasus perkasus. Presiden hanya bertanggung jawab terhadap politik kebijakan. Salah satunya tentang penegakan hukum yang pelaksanaanya tentu mengikuti mekanisme hukum yang dijalankan oleh aparatur tehnis terkait,” cuitnya diamini @DavidWijaya82. “Nah mantul mas. Tapi ya repot kalau orang sudah negatif pemikirannya. Apa-apa salah Jokowi alias Salawi.”

Komentar netizen yang kini tak bersimpati kepada Novel karena menyeret Jokowi pun saling bersahut-sahutan. Meski begitu, ada juga netizen yang mendoakan dan mendukung Novel. “Yang sabar ya pak. Semoga Allah berikan penyelesaian yang terbaik untuj kasus bapak. Entah apa itu bentuknya, kita serahkan pada Allah. Allah sebaik-baik hakim yang adil untuk semua makhluknya & pemberi balasan yang setimpalnya untuk semua manusia. Insya Allah,” doa @IraSamsudin.

Fokus Upaya Banding Saja, Jangan PolitisĀ 

Menanggapi ini, Pengamat Politik Wempy Hadir menilai cuitan Novel yang mengaitkan Presiden Jokowi dengan kasus yang dia alami salah kaprah. Kata Wempy, setiap lembaga negara punya kewenangannya masing-masing. Masing-masing lembaga baik eksekutif, legislatif, yudikatif, tidak bisa saling mengintervensi satu sama lain.

“Saya kira Novel itu terlalu berlebihan, dan dia terkesan politis dalam menilai. Bahwa dia memperjuangkan keadilan, saya kira masih ada jalur hukum, dia bisa melakukan proses hukum yang lebih tinggi kalau tidak puas atas tuntutan tersebut. Apa hubungannya Jokowi dengan kasus Novel ini?” ujarnya dalam keterangan yang diterima.

Dia menilai, dengan menyeret nama Jokowi dan kasusnya ke ranah politik, akan berdampak pada simpati publik yang kian memudar kepadanya. “Terbukti akhirnya simpati publik hilang, karena sudah masuk dalam ranah politis,” tandas Wempy.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo juga ikut memberikan kritkan kepada Novel Baswedan. Sebagai penegak hukum namun, Novel kerap offside bermain di wilayah isu politik. “Cuitan-cuitannya, pernyataan-pernyataan politis, ini yang buat publik akhirnya bertanya-tanya juga Novel Baswedan ini politisi atau penegak hukum, sebaiknya dia fokus saja pada persoalan- persoalan hukum. Boleh juga dia mengkritik tapi soal masalah hukum,” sarannya.

Serupa, Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta meminta Novel Baswedan fokus pada upaya banding atas sidang putusan kasus yang menimpanya. Tanpa perlu menarik-narik Presiden dalam kasus tersebut.

“Novel Baswedan tentu paham bahwa vonis pelaku penyiraman diputuskan oleh hakim berdasarkan fakta-fakta persidangan. Untuk itu sebaiknya Novel Baswedan fokus untuk upaya banding, tidak perlu menarik-narik Presiden dalam kasus ini,” sarannya. (INI)

Pos terkait