SETARA Institute, Virus Intoleransi Sama Bahanya dengan COVID-19

  • Whatsapp
Bonar Tigor Naipospos
Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos.

Inisiatifnews.com – Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah orang yang mengatasnamakan diri Laskar Mojo, Kenteng, dan Mojolaban terhadap keluarga Habib Umar Assegaf di Solo, Jawa Tengah pada hari Sabtu 8 Agustus 2020 kemarin.

“SETARA Institute mengutuk tindakan persekusi terhadap warga Syi’ah di Surakarta, sebagaimana terhadap kasus-kasus ekspresi intoleransi, diskriminasi, dan persekusi terhadap kelompok minoritas lainnya di seluruh tanah air,” kata Bonar dalam siaran persnya, Minggu (9/8/2020).

Bacaan Lainnya

Bagi Bonar, apa yang dilakukan oleh sejumlah laskar tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum dan bagian dari perusak tatanan demokrasi di Indonesia.

“Tindakan semacam itu, bukan saja melanggar hukum, namun juga merusak semboyan hidup bersama bangsa dan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Atas insiden itu, Bonar pun menilai bahwa aksi intoleransi ternyata sama besar bahanya darinya virus COVID-19 yang saat ini masih menjadi pandemi di Indonesia.

“SETARA Institute mengingatkan pemerintah bahwa virus intoleransi sama berbahayanya dengan virus Covid-19,” terangnya.

Maka dari itu, ia pun mengharapkan agar pemerintah mengambil sikap yang tepat terhadap wabah paham intoleran tersebut.

“Oleh karena itu, pemerintah mesti mengambil tindakan presisi untuk mencegah penjalaran intoleransi di tengah pandemi,” imbuhnya.

Selanjutnya, Direktur Riset SETARA Institute Halili Hasan juga mengatakan, bahwa pasca insiden kekerasan semacam itu, potensi untuk munculnya aksi saling serang bisa saja terjadi, sehingga membuat situasi semakin buruk.

Oleh karena itu, ia pun berharap agar pemerintah di Jawa Tengah khususnya di Surakarta agar mengambil sikap dan tindakan yang sangat tepat dan terukur.

“SETARA Institute mendorong pemerintah daerah, Jawa Tengah dan Surakarta, dalam hal ini untuk mengambil langkah terukur dan tidak lengah dalam mengantisipasi timbulnya situasi tidak kondusif, yang diakibatkan oleh tindakan intoleran dan melawan hukum yang dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran,” tutur Halili.

Apalagi di dalam catatannya, SETARA Institute menyebut bahwa Surakarta adalah salah satu daerah yang menjadi sarang dari kelompok-kelompok intoleran. Maka dari itu, perlu ada langkah yang serius dari pemerintah terkait agar paham radikal dan intoleran tidak menjadi momok tersendiri.

“Data menunjukkan bahwa di Surakarta dan daerah periferal di sekitarnya terdapat beberapa kelompok intoleran. Kelompok-kelompok laskar yang secara aktual dan potensial mengganggu keberagaman harus mendapatkan penanganan yang terukur, sesuai dengan prinsip HAM dan demokrasi,” ucapnya.

Terakhir, Halili berharap agar institusi Kepolisian bisa bertugas secara tegas atas kasus tersebut dan kasus-kasus intoleransi sejenisnya.

“SETARA Institute menuntut aparat kepolisian setempat untuk melakuan penegakan hukum secara adil atas tindak pidana serius yang tadi malam dilakukan oleh laskar-laskar intoleran,” ucapnya lagi.

Dan ia juga meminta agar Kepolisian mengoptimalkan peran dan penggunaan standar kerja aparat di tingkat masyarakat, terutama Bhabinkamtibmas, untuk mencegah terjadinya gangguan atas tertib sosial, khususnya atas minoritas, di masa pandemi.

“Selain itu, kepolisian harus memobilisi sumber daya yang memadai untuk mencegah terulangnya peristiwa-peristiwa serupa,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa telah terjadi penyerangan dan penganiyaan terhadap keluarga Umar Assegaf, di Mertodranan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah pada hari Sabtu 8 Agustus 2020 malam.

Sekitar 100 orang yang menamakan diri Laskar Mojo, Kenteng, dan Mojolaban menyerang keluarga yang sedang menyelenggarakan kegiatan midodareni, atau doa sebelum pernikahan yang diikuti oleh sekitar 20 orang.

Laskar berjubah dan menggunakan penutup kepala tersebut menyebut kegiatan keluarga itu sebagai kegiatan keagamaan Syi’ah. Salah satu pimpinan laskar berteriak: “Allahuakbar, bubar, kafir.” Sebagian yang lain menerikkan: “Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, darah kalian halal.”

[NOE]

Pos terkait