Burhanuddin Muhtadi Khawatir Golput dan Money Politic Makin Parah

  • Whatsapp
Burhanuddin Muhtadi
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.

Inisiatifnews.com – Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyatakan bahwa ada dua hal yang sebenarnya paling mengkhawatirkan di dalam pelaksanaan Pilkada 2020 nanti.

Pertama adalah persoalan potensi besar rendahnya partisipasi masyarakat dalam menyalurkan hak suara mereka. Hal ini didasari lantaran pandemi COVID-19 belum mampu diatasi oleh pemerintah, di tambah lagi dengan jumlah kasus yang terus mengalami tren kenaikan.

Bacaan Lainnya

“Yang perlu kita antisipasi di Pilkada adalah banyak masyarakat yang mengharapkan pilkada 2020 ditunda, karena covid-19 belum selesai. Tapi Pilkada 2020 sudah jadi keputusan politik pemerintah,” kata Burhanuddin Muhtadi dalam diskusi online, Rabu (2/9/2020).

Jika ini tidak benar-benar disikapi oleh pemerintah, di mana pelaksanaan Pilkada 2020 matang dan potensi-potensi penularan Covid-19 dapat dicegah, maka Pilkada serentak nanti akan rendah partisipasi publik.

“Kalau ini tidak diantisipasi, khawatirnya banyak angka golput,” ujarnya.

Selain potensi jumlah angka golput, pengamat politik senior ini juga mencium adanya potensi kerawanan pelanggaran Pilkada, yakni praktik politik uang (money politic).

Bagi Burhanuddin Muhtadi, sangat rentan adanya jual beli suara karena ekonomi nasional juga tengah sulit. Banyak masyarakat yang tidak memiliki banyak uang karena akses pekerjaan yang tidak memadahi dampak dari COVID-19. Sehingga ketika ada pasangan calon kepala daerah membagi-bagikan uang tunai, masyarakat bisa lebih sulit untuk menolaknya.

“Akan marak politisasi uang, karena ekonomi sulit. Maka Rp 50.000 (uang suap -red) sangat berarti bagi masyarakat,” paparnya. [NOE]

Pos terkait