PERMUI Galang Masukan Demi Sukseskan Pilkada 2020 di Tengah Covid-19

  • Whatsapp
PERMUI
Diskusi webinar dengan tema "Pilkadaa Serentak 2020 di Masa Pandemi: Mengawal Demokrasi dan Menakar Kesiapan Pilkada Serentak" yang digelar oleh PERMUI, pada hari Kamis 3 September 2020.

Inisiatifnews.com – Pilkada serentak 2020 sudah di depan mata. Berbagai hal saat ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh seluruh stakeholder, apalagi di situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini, pelaksanaan Pilkada tidak boleh justru menjadi momok dan munculnya klaster baru.

Hal ini pun disikapi oleh Ketua Umum Perempuan Milenial Untuk Indonesia (PERMUI), Nadia Yulianda Putri. Ia mengatakan bahwa perlu kedisiplinan dan kolaborasi aktif dari semua pihak.

Bacaan Lainnya

“Pilkada di momen pandemi ini tidaklah ringan. Dibutuhkan kedisiplinan, kolaborasi, dan komitmen semua pihak agar dari sisi teknis penyelenggaraan pilkada berhasil,” kata Nadia dalam webinar dengan tema “Pilkadaa Serentak 2020 di Masa Pandemi: Mengawal Demokrasi dan Menakar Kesiapan Pilkada Serentak” yang digelar oleh PERMUI, Kamis (3/9/2020).

Keseriusan untuk mematangkan pelaksanaan Pilkada 2020 di tengah pandemi COVID-19 yang masih berjalan ini dianggap sangat perlu. Karena jika tidak, dampak domino yang negatif akan muncul dan membuat pelaksanaan agenda politik elektoral itu tercoreng.

“Jika tak diantisipasi dengan baik, pilkada yang digelar di masa pandemi ini, alih-alih melaksanakan demokrasi di tingkat lokal dengan baik, pilkada justru melahirkan masalah baru, baik dari sisi teknis maupun non teknis,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, Dahlia Umar mewanti-wanti betul agar pelaksanaan Pilkada 2020 di tengah situasi pandemi dimatangkan lagi. Protokol kesehatan dan antisipasi penyebaran Covid-19 semakin luas harus menjadi titik kunci untuk mencapai kesuksesan agenda politik elektoral itu.

“Kualitas berjalannya pilkada serentak tidak boleh kurang karena hasilnya jangan sampai tidak sesuai harapan,” kata Dahlia.

Ia pun meminta agar para komisioner KPU maupun Bawaslu semakin memperbanyak masukan dari publik demi mematangkan agenda politik yang mereka jalankan itu.

“KPU dan Bawaslu perlu masukan di forum-forum seperti ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Kepemiluan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Ferry Daud M. Liando menyatakan bahwa konteks dari Pilkada adalah bagaimana agar kedaulatan rakyat diakomodir oleh negara dalam bentuk penyaluran hak suara mereka. Sehingga jangan sampai Pilkada di tengah pandemi COVID-19 ini kedaulatan itu tidak terakomodir dengan baik.

“Kedaulatan kerakyatan harus tetap dipenuhi, pihak penyelanggara pilkada harus memudahkan akses ke TPS,” kata Ferry.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat AIPI ini juga berharap agar pemilih milenial ikut berpartisipasi dalam Pilkada 2020 bulan Desember nanti.

“Diharapkan pemilih muda harus berperan aktif dalam pilkada,” lanjutnya.

Masih di dalam kesempatan yang sama pula, Kasubdit Wilayah IV Direktorat Fasilitasi Kepala Daerah dan DPRD Kemendagri, Saydiman Marto mengatakan, bahwa Pilkada 2020 yang akan digelar oleh negara nanti memiliki nilai yang positif bagi rakyat Indonesia. Di mana momentum tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi rakyat untuk saling peduli dan menjaga agar tidak tertular COVID-19.

“Pilkada membuat kita memiliki budaya baru dalam melaksanakannya,” kata Saydiman.

Kemudian, ia juga menyebut bahwa di tengah pandemi Covid-19 juga banyak ekonomi yang tumbang. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga banyak yang terseok-seok. Dan pelaksanaan Pilkada 2020 dikatakan Saydiman bisa menjadi salah satu obat bagi pelaku UMKM khususnya mereka yang bergerak di dalam pengadaan barang-barang kebutuhan Pemilu.

“Pengadaan pelaksanaan pilkada juga dapat mendorong perekonomian seperti UMKM,” jelasnya.

Namun ia juga menyebut bahwa salah satu tantangan besar dalam pelaksanaan Pilkada 2020 adalah bagiamana melakukan kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat untuk ikut peduli serta patuh pada protokol kesehatan.

“Solusi pilkada di tengah pandemi salah satunya adalah sosialisasi penegakan disiplin penerapan protokol kesehatan, dan pemenuhan APD bagi penyelenggara dan petugas keamanan untuk melaksanakan protokol kesehatan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini berpendapat bahwa Pilkada 2020 akan memakan biaya yang lebih tinggi dari Pilkada tanpa adanya pandemi.

“Ada beberapa tantangan seperti kesehatan dan kebersihan disesuaikan dengan protokol kesehatan di mana lebih rumit, sulit, dan mahal,” kata Titi.

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas dan euforia politik elektoral tersebut juga akan mengalami penurunan. Apalagi dengan potensi kampanye dilakukan secara virtual, ditambah potensi apatisme publik terhadap pilkada serentak yang dilakukan karena belum tuntasnya persoalan pandemi Covid-19 di Indonesia. Untuk meningkatkan kepercayaan publik dan ketertarikan mereka terhadap calon kepala daerah juga membutuhkan effort yang tidak sedikit bagi para partai politik. Ini yang diharapkan Titi agar menjadi perhatian serius bukan hanya bagi penyelenggara pemilu saja, tapi juga kepada peserta pemilu.

“Selain itu, kualitas kompetisi yang menurun serta pengeluaran biaya kampanye atau parpol sangat tinggi,” tutupnya.

Terakhir, Nadia sebagai pihak penyelenggara diskusi online tersebut memberikan pesan bahwa agenda webinar tersebut adalah bagian dari bahan masukan kepada pemerintah dan penyelenggara pemilu agar lebih bisa mematangkan lagi konsep dan persiapan teknis maupun non teknis Pilkada 2020 nanti.

“Webinar ini kami selenggarakan untuk menghimpun beberapa buah fikiran dari para tokoh yang sudah berpengalaman dengan harapan dapat menjadi masukkan serta perhatian khusus pemerintah dan seluruh masyarakat terhadap suksesnya penyelanggaraan pilkada serentak 2020,” kata Nadia menambahkan.

“Karena pemerintahan tidak boleh berhenti untuk tetap bisa menjaga keselamatan rakyat. Tentu dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan agar tidak menimbulkan klaster Covid-19 yang baru,” pungkasnya. [NOE]

Pos terkait