Prof Malik Fadjar Pernah Jadi NU Sebentar Saat Rapat Serius di Muhammadiyah

  • Whatsapp
IMG 20200908 081722
Prof Malik Fadjar.

Inisiatifnews.com – Indonesia baru saja kehilangan salah satu tokohnya, dia adalah Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dan Menteri Agama (Menag).

Prof Mohammad Mahfud MD, adalah salah satu sahabat beliau. Melalui akun twitternya, Menko Polhukam RI di Kabinet Indonesia Maju itu menyebut, bahwa Prof Malik Fadjar memiliki terobosan yang sangat bagus saat menjadi Direktur Jenderal Bimbingan Islam di Kementerian Agama.

Bacaan Lainnya

“Saat menjadi Dirjen Bimbaga Islam di Kemenag Malik Fajar membuat terobosan dengan memberi penghargaan bahwa kiyai-kiyai di ponpes (Pondok Pesantren) diberi wewenang mengajar di IAIN setara dengan profesor,” kata Mahfud MD saat mengenang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, Selasa (8/9/2020).

Alasan mengapa kiyai-kiyai diberikan kewenangan untuk mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) itu lantaran sosok kiyai memiliki tingkat keilmuan yang tidak kalah dengan sekelas profesor untuk urusan pengetahuan keagamaan.

“Menurutnya, ilmu agama yang dikuasai oleh para kyai tak kalah dari profesor resmi,” ujarnya.

Ada kenangan yang cukup menggelitik dari sosok Almarhum Prof Malik Fadjar. Di mana ia memiliki guyonan tentang urusan merokok. Walaupun ia adalah orang Muhammadiyah tulen, namun urusan asap mengasap mulut tampaknya ia lebih sepakat dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak memfatwakan haram bagi rokok.

“Malik Fajar tokoh Muhammadiyah yang setengah tidak membolehkan merokok tapi dia sendiri perokok berat,” ucap Mahfud.

Bahkan ketika ketika ada rapat serius di Muhammadiyah, sementara ia sedang kebelet ingin merokok, maka guyonan itu keluar.

“Kalau ada rapat Muhammadiyah yang tengah serius dan dia ingin merokok maka dia merokok sambil bilang, “Saya mau masuk NU sebentar”. NU memang tidak melarang ummat merokok. Malik setuju,” sambungnya.

Selain itu, Mahfud juga menilai bahwa sosok almarhum Prof Malik Fadjar adalah contoh pejabat yang sangat low profile. Hal ini ia katakan, bahwa ia pernah bertemu mantan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu makan di warung pinggir jalan.

“Ketika jadi menteri agama saya memergoki Malik Fajar makan di Warung Padang di kawasan Krekot. “Kok menteri makan di sini hanya bertiga?” Tanya saya. “Loh, kenapa? Kalau dilarang makan di warung saya lebih baik tidak jadibmenteri”, jawabnya enteng sambil minta saya ikut makan di sebelahnya,” tandasnya.

Mahfud mengatakan bahwa prof Malik Fadjar adalah suri tauladan yang patut dicontoh.

“Bahwa Malik Fajar adalah “role model” yang harus kita contoh. Saat jadi pejabat selalu egaliter, luwes, tidak sewenang-wenang,” katanya.

Perlu diketahui, bahwa Prof Malik Fadjar meninggal dunia di usianya yang ke 81 tahun. Ia mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan pada hari Senin 7 September 2020 pukul 19.00 WIB.

“Damailah, Pak Malik,” tutup Mahfud. [NOE]

Pos terkait