PWJ Desak Polisi Intimidasi Wartawan Dijebloskan ke Penjara

  • Whatsapp
IMG 20201009 WA0109
Poros Wartawan Jakarta (PWJ).

Jakarta, Inisiatifnews.com – Ketua Umum Poros Wartawan Jakarta (PWJ) Tri Wibowo Santoso menyesalkan sikap arogan yang dilakukan oleh oknum Polisi yang melakukan pengamanan aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja di Jakarta pada hari Kamis (8/10) kemarin.

Di mana beberapa wartawan mendapatkan aksi intimidatif mulai dari perampasan perlengkapan kerja hingga pemukulan dan penahanan.

Bacaan Lainnya

“Atas berbagai kekerasan yang terjadi terhadap jurnalis, Poros Wartawan Jakarta (PWJ) mengecam keras aksi penganiayaan terhadap jurnalis saat meliput aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja,” kata pria yang karib disapa Bowo itu, Jumat (9/10/2020).

Menurutnya, sikap oknum polisi tersebut sangat menciderai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 yang melindungi kerja-kerja jurnalis.

“Hal ini merupakan ancaman atas kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers yang dilindungi undang-undang, dalam hal ini Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” tegasnya.

Dipaparkan Bowo, bahwa berdasarkan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan, bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan kemerdekaan pers, dipidana paling lama dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta rupiah.

“Setiap orang di dalam pasal itu termasuk polisi atau aparat negara lainnya,” jelas Bowo.

Melalui pernyataan sikapnya itu, Bowo menyatakan bahwa PWJ mendesak kepada Kapolri untuk menindak tegas anggotanya yang melakukan pelanggaran hukum tersebut.

“Mendesak kepada Kapolri Jenderal Idham Aziz mengusut tuntas hal ini. Memproses hukum pelaku kekerasan dari unsur Polri tidak hanya di tingkat kepolisian tetapi juga di pidana umum,” tuntutnya.

Bowo juga menilai bahwa kasus kekerasan wartawan oleh Polisi seperti menjadi rutinitas dan tak pernah ada penyelesaian yang tegas dan pasti. Maka dari itu, ia pun meminta kepada Kapolri agar mengeluarkan instruksi agar para jajaran Polri di seluruh tingkatan paham bagaimana menghormati profesi wartawan.

“Mendesak Kapolri mengeluarkan Keputusan Kapolri yang khusus mengatur seputar instruksi kepada seluruh jajajran Polri agar menghormati profesi kerja jurnalis,” ujarnya.

Tidak hanya kepada Polri saja, Bowo pun meminta kepada semua pihak agar menghormati profesi wartawan ketika sedang melakukan tugasnya.

“Meminta kepada semua kalangan semua pihak baik institusi negara maupun kelompok masyarakat agar juga menghormati profesi jurnalis dalam melakukan peliputan,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa dalam penanganan aksi unjuk rasa berbagai elemen di Jakarta untuk menolak UU Cipta Kerja, beberapa oknum polisi melakukan aksi intimidatif terhadap para awak media yang sedang bertugas.

Salah satunya adalah seorang fotografer Suara.com Peter Rotti. Di mana ada oknum kelompok polisi merampas kamera dan kartu memorinya serta melakukan penganiayaan atau kekerasan fisik. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, saat Peter merekam video aksi sejumlah aparat kepolisian mengeroyok seorang peserta aksi di sekitar halte Transjakarta Bank Indonesia.

Ketika itu Peter berdua dengan rekannya, yang juga videografer, yakni Adit Rianto S, melakukan live report via akun YouTube peristiwa aksi unjuk rasa penolakan Omnimbus Law.

Melihat Peter merekam aksi para polisi menganiaya peserta aksi dari kalangan mahasiswa, tiba-tiba seorang aparat berpakaian sipil serba hitam menghampirinya.

Kemudian disusul enam orang Polisi yang belakangan diketahui anggota Brimob. Para polisi itu meminta kamera Peter, namun ia menolak sambil menjelaskan bahwa dirinya jurnalis yang sedang meliput.

Namun, para polisi memaksa dan merampas kamera Peter. Seorang dari polisi itu sempat meminta memori kamera. Peter menolak dan menawarkan akan menghapus video aksi kekerasan aparat polisi terhadap seorang peserta aksi.

Para polisi bersikukuh dan merampas kamera jurnalis video Suara.com tersebut. Peter pun diseret sambil dipukul dan ditendang oleh segerombolan polisi tersebut.

“Saya sudah jelaskan kalau saya wartawan, tetapi mereka (polisi) tetap merampas dan menyeret saya. Tadi saya sempat diseret dan digebukin, tangan dan pelipis saya memar,” kata Peter.

Setelah merampas kamera, memori yang berisi rekaman video liputan aksi unjuk rasa mahasiswa dan pelajar di sekitar patung kuda, kawasan Monas, Jakarta itu diambil polisi. Namun kameranya dikembalikan kepada Peter.

Hal yang sama dialami Tiga jurnalis Palu Sulawesi Tengah. Mereka dipukul oknum polisi saat sedang meliput demo penolakan omnibus law UU Cipta Kerja. Dua dari tiga korban kekerasan terhadap wartawan tersebut adalah perempuan.

Ketiga wartawan yang dipukul itu mengaku sudah memperlihatkan ID card pers. Namun, oknum tidak menghiraukannya dan memukul ketiganya. Salah satu korban, Alsih, dipukul tepat di arah wajah.

Adhy salah seorang jurnalis mendapatkan pukulan di bahu bagian belakang dan Windy terkena lemparan batu dari arah kerumunan polisi.

Selain kekerasan yang terjadi, Poros Wartawan Jakarta (PWJ) juga mendapat laporan soal hilangnya beberapa jurnalis saat meliput aksi penolakan UU Cipta Kerja.

Salah satunya adalah jurnalis Merahputih.com atas nama Ponco Sulaksono yang bertugas meliput aksi Demonstrasi Penolakan UU Omnibus Law UU Cipta Kerja di kawasan Monas Gambir Jakarta Pusat hingga Kamis (8/10) malam pukul 23.30 WIB masih belum diketahui keberadaannya. Terakhir Ponco Sulaksono mengirim berita melaporkan situasi demo di kawasan Gambir ke redaksi 15.14 WIB. [RED]

Pos terkait