Tangkal Gerakan Radikal di Era Teknologi Informasi

  • Whatsapp
anti radikalisme
Anti Radikalisme.

Surabaya, Inisiatifnews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Pusat Pembinaan Ideologi LPPM Unesa menggelar Webinar melalui aplikasi Zoom dan Live Streaming Chanel Youtube Official Unesa dengan tema “Penyebaran dan Gerakan Radikalisme Era Teknologi Informasi” dalam rangka kegiatan kontra Intelijen terhadap kelompok Eks HTI atau radikal di wilayah Jawa Timur, Minggu (11/10/2020).

Hadir dalam kegiatan itu di antaranya, Syahrul Munif, Mantan Pejuang ISIS, Ahmad Bashri, Pusat Pembinaan Ideologi Unesa dan Zuhairi Misrawi, Akademisi pengamat Isu Timur Tengah dan Penulis.

Bacaan Lainnya

Mantan Pejuang ISIS, Syahrul Munif menceritakan sejarah bagaimana dirinya dahulu bisa bergabung dengan ISIS di Suriah, yang diawali ketika ia juga aktif di lembaga dakwah kampus dan saat itu ia memiliki empati yang besar kepada warga Syuriah yang sering tertindas.

“Dan kami pada saat itu memiliki niat jihad fi sabilillah dan membela saudara-saudara kita di Suriah. Di Suriah kita diajari dan dilatih menggunakan senjata seperti AK47, bagaimana cara merakit dan menggunakan senjata. Dan di Suriah saya untuk pertama kalinya mendeklarsikan Khilafah. Pada saat itu, ISIS sangat sering berbenturan dan berperang dengan komunitas Islam lain sehingga menimbulkan pertumpahan darah antar sesama umat Muslim. Dan di sini ISIS sudah merasa mereka sudah sempurna sehingga menganggap organisasi ISIS adalah organisasi Islam sedangkan yang lainnya adalah kafir,” beber Syahrul.

Aksi seperti penyerangan bom, penyerangan terhadap polisi, penyerangan terhadap TNI itu merupakan fatwa dari ISIS bahwa ketika pintu hijrah tertutup maka dengan cara berbay’atlah jalan satu-satunya. Hampir 80% kalangan anak muda dan kaum milenial pada saat ini yang terpapar faham–faham Khilafah merupakan efek negatif dari perkembangan teknologi.

“Pada zaman ini para anak muda dan kaum milenial masih terlalu mudah untuk menelan ilmu tanpa adanya pembelajaran lebih lanjut, sehingga dengan mudahnya menerima informasi dan ilmu yang tidak benar tentang ajaran Islam. Karena mereka menganggap ajaran Islam di Timur Tengan ini sudah termasuk ajaran Islam yang terbaik, akan tetapi itu semua tidak benar, masih banyak bentrok antar umat islam itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Syahrul, teroris di Indonesia jangan sampai diberi ruang, karena jika mereka diberi ruang sedikit, maka sangat mudah untuk mereka untuk menghancurkan negara Indonesia ini. Bahaya radikalisme ini bukan isu yang diciptakan pemerintah, namun faktanya radikalisme ini memang sudah menjadi virus yang bisa membahayakan NKRI ini.

“Ketika ada gejolak di Timur Tengah saya merasa terpanggil untuk ikut berjuang di Suria, saya merasa banyak umat Islam yang terdzolimi disana. Sekitar 20 orang dari teman saya berangkat ke Suria. ketika tiba di Suriah saya dikumpulkan di bawah bendera hitam yaitu ISIS. Dengan niatan ingin berjihad di jalan Allah, saya digabungkan di Suriah dengan kamunitas ISIS, disana saya mempelajari bongkar pasang senjata, belajar perang, merakit bom. Di mana saat itu seluruh dunia tertuju pada negara Suriah yang mendeklarasikan Khilafah. Ketika itu tujuan kita adalah berperang dengan negara lain yang tidak sependapat dengan Khilafah Islamia saat itu,” terangnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, virus ISIS pada waktu itu adalah memandang negara lain kafir dan hanya dia sendiri yang benar. Ketika itu merupakan fatwa dari ISIS apabila tidak mampu berjihad maka diwajibkan kepada semua anggotanya untuk berjuang dengan jalan apapun dan dimanapun sesuai dengan kemampuan masing–masing.

“Bahkan dengan pisau dapurpun, kita bisa berjihad asalkan dapat menegakkan syariat Islam pada waktu itu menurut kelompok ISIS itu dibenarkan. Ketika saya ditangkap oleh Densus dan diberikan pemahaman yang benar bahwa faham ISIS adalah salah. Pada saat sekarang para pemuda terpengaruh faham radikalisme dengan sangat mudah, mereka dapat langsung melihat situs–situs dan informasi melalui internet. Sasaran dari para penyebaran virus ISIS adalah pemuda yang pemberani dan penuh semangat tanpa dibekali ilmu dan literatur yang lain. Orang–orang seperti inilah yang mudah terpapar faham radikalisme,” bebernya.

“Saya sebagai seorang Muslim merasa tercoreng dengan gerakan radikalisme yang ada di negara Indonesia, dibandingkan dengan negara di dunia, Indonesia terkenal dengan beberapa kelompok teroris yang ada, seperti contoh Gerakan MIT di Poso, mereka adalah salah satu korban faham kedzoliman ISIS. Yang menganggap negaranya sendiri sebagai musuhnya. Para pelaku teroris akan melakukan perbuatan bom bunuh diri, karena mereka dicuci otak dengan tujuan mereka akan mati syahid, mendapatkan surga dan terbebas dari dosa,” imbuhnya.

Banyak sekali anak yang mengkafirkan orangtua gara–gara perbedaan faham. Mereka adalah sasaran empuk bagi para penyebar faham radikalisme untuk merubah pola pikir mereka agar membenci dan menjauhi segala faham apapun yang tidak sejalan dengan fahamnya.

“Islam terbesar ada di Indonesia, maka kewajiban kita menjaga Islam yang suci dan sesuai dengan hadist dan Al–quran. Membawa Islam sebagai Rakhmatanlilalamin, demi situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di negara Indonesia. Hal yang paling ekstrim yang pernah saya lihat di Suriah adalah ketika para pejuang ISIS memenggal kepala dan memamerkannya di pagar umum,” bebernya.

Kelompok–kelompok yang tidak setuju dengan ideologi di negara Indonesia, bisa dibagi menjadi dua yakni kelompok yang menolak ideologi secara terang–terangan, dan kelompok yang menolak ideologi Indonesia dengan cara tertutup dan cenderung jarang muncul dipermukaan.

Tantangan Era Disrupsi. Tantangan ini adalah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem dengan cara–cara baru. Hal ini juga berlaku ketika teknologi itu sudah ketinggalan zaman maka teknologi tersebut secara otomatis akan tergantikan dengan yang baru. Seperti contoh adanya GOJEK atau GRAB yang telah menggeser Taksi atau Ojek pangkalan. Smartphone yang menggantikan WARTEL (Warung Telekomunukasi).

Secara sederhana Radikalisme ini menolak adanya ideologi Pancasila, UUD, dan ke Bhinneka-an yang sangat kental dengan budaya luhur kita. Tipe–Tipe pelajar dan kaum milenial ini sangat krusial terhadap tantangan radikalisme kedepannya. Dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat sehingga dapat menyebabkan kaum milenial ini menjadi kecanduan internet, bersifat apatis (tidak peduli dengan lingkungan sekitar) hal ini yang menyebabkan mudahnya nilai–nilai radikalisme dapat mudah masuk ke dalan diri kaum milenial sekarang ini.

Sosial media yang ada sekarang sangat krusial perannya di masyarakat terutama bagi para pelajar dan anak muda, dikarenakan banyaknya informasi atau hal–hal yang belum tentu benar, belum sesuai fakta dengan mudahnya dicerna oleh para pemuda dan pelajar ini, sehingga dapat terjadi gagal paham diantara mereka yang menyebabkan mereka memikiki faham tersendiri yang belum terbukti kebenarannya. Jadi pada saat diposisi ini radikalisme itu lah masuk kepada jiwa mereka.

Radikalisme berbaju Agama ini terdiri diantara kebenaran agama melawan radikalisme. Kedua hal tersebut selalu berbenturan. Seperti halnya sesama saudara Muslimnya saja dikafirkan karena tidak memiliki aliran yang sama dengan dia, padahal keduanya sama beragama Islam, apalagi kalau berbeda agama hal inilah yang menyebabkan mudahnya radikalisme muncul di tengah masyarakat.

Perkembanga radikalisme ini dapat dicegah dengan adanya pendekatan manual atau intens, bantuan akademik, pendekatan dakwah secara digital, penguasaan isu–isu di media digital yang ada. Hal itu semua sangat berpengaruh bagi masyarakat terutama pemuda yang aktif dalam teknologi atau social media untuk membentengi dirinya dari faham–faham radikalisme.

“Adanya Self Recruited hal ini berarti terekrut sendiri. Hal ini disebabkan ketidak pahaman tentang suatu informasi dan ilmu yang belum jelas asal usulnya. Bacaan–bacaan di media social yang sengaja diarahakn oleh oknum tertentu yang secara tidak langsung mempromosikan faham radikalisme sehingga dapat mempengaruhi keputusan di dalam diri orang yang membaca artikel atau bacaan tersebut. Cara mencegah radikalisme yakni dengan cara merefleksi diri kita sendiri, kritis terhadap dunia luar, serta tabayun. Hal–hal tersebut jika dilakukan dan dijadikan sebagai gaya baru hidup kita insyaallah kita dapat membentengi diri kita dari faham radikalisme,” pungkasnya. [KLD]

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait