Menyoal Agama Kapolri, Uki : Yang Aneh Kalau Waketum MUI Non Muslim

  • Whatsapp
dedek prayudi
Juru bicara PSI, Dedek "Uki" Prayudi.

Inisiatifnews.com – Eks juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek “Uki” Prayudi menyinggung tentang komentar salah satu petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020.

Di mana, Waketum MUI Periode tersebut, yakni KH Muhyiddin Junaidi merasa aneh jika pimpinan korps Bhayangkara yakni Kapolri berlatar belakang agama non Islam.

Bacaan Lainnya

Menurut Uki, siapapun termasuk Kapolri berhak untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing. Siapapun tidak boleh membatasinya.

“Setiap orang berhak memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing dan pilihannya,” kata Uki, Jumat (27/11/2020).

“Tidak boleh mengebiri haknya sebagai citizen, untuk menduduki jabatan publik, misalnya,” imbuhnya.

Bagi Uki, jabatan Kapolri tidak boleh dipandang hanya sebatas latar belakang rasial dan agamanya. Melainkan lebih ditekankan pada sisi integritas dan kemampuannya dalam memimpin lembaga negara itu.

“Selama dia berkompetensi dan berintegritas, why not?,” ujarnya.

Karena Polri bukan lembaga keagamaan sehingga siapapun berhak untuk menjadi pimpinan tertinggi di dalamnya. Berbeda dengan MUI misalnya, yang merupakan lembaga dengan latar belakang agama.

“Yang aneh itu kalau Waketum MUI non Muslim,” celetuknya.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020, KH Muhyiddin Junaidi menganggap aneh bila Kapolri pengganti Jenderal Idham Aziz nantinya dijabat oleh seseorang yang bukan beragama Islam atau nonmuslim.

Meski Indonesia bukan negara Islam, Muhyiddin berpendapat sangat aneh bila pemimpin aparat keamanan berlatar belakang nonmuslim memimpin penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

“Seorang pemimpin nonmuslim mengendalikan keamanan negara di mana mayoritas penduduknya muslim adalah sebuah keanehan dan tugasnya pasti amat berat,” kata Muhyiddin dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (25/11).

Muhyiddin menyebut wajar bila pemimpin di negara manapun memiliki agama yang sama dengan yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Contohnya seperti Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas nonmuslim, maka presiden atau kepala aparat keamanannya juga mengikuti latar belakang nonmuslim.

Ia memprediksi akan banyak kendala psikologis yang akan dihadapi oleh pemimpin beragama nonmuslim di negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim.

“Apalagi kepolisian tugasnya sangat erat dengan masalah keamanan masyarakat. Pendekatan persuasif sangat dibutuhkan dalam sengketa dan demo massa,” kata dia. [RED]

Pos terkait