Ini Respon PBNU soal Adzan Panggilan Jihad

  • Whatsapp
robikin emhas
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Ketua PBNU Bidang Hukum HAM dan Perundang-Undangan, Robikin Emhas memberikan reaksi terhadap peristiwa kumandang adzan dengan lafadz “Hayya Alal Jihad” yang dilakukan oleh para santri Habib Bahar bin Smith dan simpatisan Habib Rizieq bin Shihab serta kader Front Pembela Islam (FPI).

Menurutnya, jihad yang dikumandangkan dengan membawa senjata tajam tidak relevan untuk saat ini di Indonesia. Karena jihad yang bisa dimaknai adalah untuk mewujudkan cita-cita nasional, bukan sekedar gagah-gagahan antar kelompok.

Bacaan Lainnya

“Dalam negara bangsa yang telah merdeka seperti Indonesia, jihad harus dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh dari segenap komponen bangsa untuk mewujudkan cita-cita nasional,” kata Robikin, Senin (30/11/2020).

Cita-cita bangsa yang dimaksud Robikin adalah bagaimana menghadirkan perdamaian dunia.

“Mewujudkan perdamaian dunia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memakmurkan ekonomi warga serta menciptakan tata kehidupan yang adil dan beradab,” ujarnya.

Kemudian, ia juga menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang sangat plural karena memiliki berbagai ragam budaya, suku, bahasa dan agama yang dibalut oleh Pancasila.

Maka toleransi menjadi sangat penting untuk mewujudkan kebhinekaan.

“Oleh karena itu, di tengah kehidupan yang plural seperti di Indonesia ini, kita harus memperkuat toleransi dan saling menghargai baik sesama maupun antar pemeluk suatu agama, etnis, budaya, dan lain-lain,” tandasnya.

Dibanding menciptakan atau memperlebar perbedaan dan pertentangan, alangkah lebih baiknya jika seluruh stakeholder merawat persatuan dalam perbedaan tersebut.

“Mari kita kokohkan persatuan dan kesatuan. Kita perkuat persaudaraan sesama warga bangsa dan persaudaraan kemanusiaan sebagai sesama keturunan anak cucu Nabi Adam AS,” tuturnya.

Terakhir, ia juga mengimbau kepada masyarakat luas untuk tetap menjaga kondusifitas, serta tidak mudah terprovokasi oleh unsur dan kelompok manapun.

“Jangan terpengaruh hasutan, apalagi terprovokasi. Agama jelas melarang keterpecah-belahan dan menyuruh kita bersatu dan mewujudkan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat,” tutupnya.


Pos terkait