Ini Peringatan Keras Hendropriyono ke Penggeruduk Rumah Ibunda Mahfud MD

  • Whatsapp
Hendropriyono
AM Hendropriyono.

Inisiatifnews.com – Guru besar intelijen, Prof Dr Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono mengingatkan kepada para pendemo di kediaman keluarga Menko Polhukam Mahfud MD di Pamekasan, untuk menyadari bahwa mendemonstrasi rumah keluarga memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Bahkan bisa muncul balasan pembelaan yang melampau batas.

“Jangan sekali-kali berdemonstrasi di rumah keluarga siapa pun, seperti yang dilakukan di kediaman Pak Mahfud MD itu, di mana anggota keluarga seperi istri, anak dan orang tua tidak tahu apa-apa tiba-tiba didemo. Itu berbahaya,” jelas Hendropriyono menjawab wartawan di Jakarta, Kamis (3/12/2020).

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui dua hari yang lalu, rumah kediaman pribadi Mahfud MD yang dihuni ibundanya didemo sekelompok orang dengan membawa poster dan meneriakkan kata/kata ancaman.

Pendemo ini diduga kuat adalah para pendukung Rizieq shihab. Dan saat ini, polisi pun sedang mengusut peristiwa itu.

Dalam keadaan tersebut, lanjut purnawirawan Jenderal TNI itu, hukum di Indonesia telah mengaturnya, yakni di pasal 48 dan pasal 49 KUHP yang memberikan kelonggaran kepada yang diserang untuk melakukan pembelaan diri karena terpaksa.

Pasal 49 KUHP tersebut mengatur mengenai perbuatan “pembelaan darurat” atau “pembelaan terpaksa” (noodweer) untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat.

Sedangkan pasl 48 KUHP mengatur overmacht, yakni orang yang melakukan tindak pidana karena daya paksa tidak dapat dipidana.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan, bahwa hukum di Indonesia membenarkan jika ada pembelaan tersebut sampai melampaui batas.

Dalam keamanan masyarakat yang mengkhawatirkan saat ini, jika pihak yang diserang membela diri terpaksa sampai melampaui batas, mereka tidak dapat dihukum. 

“Bela diri karena terpaksa adalah demi menyelamatkan jiwa, harta bendanya sendiri maupun orang lain. Hak bela diri ini bukan berarti main hakim sendiri, tetapi karena keadaan jiwa keluarga yang diserang itu menjadi goncang,” lanjutnya.

Keresahan yang mencekam umum dewasa ini, kata Hendropriyono, mengguncangkan banyak orang, karena kerap terjadi gontok-gontokan politik, ideologi dan agama.

Keluarga siapa pun, seperti keluarga Mahfud MD yang diserang, cukup dengan alasan dapat mengira akan ada serangan atau ancaman serangan terhadap mereka, maka pembelaan terpaksa jika mereka melakukannya dan dilindungi oleh pasal 49 KUHP tersebut.

Maksud dari pembelaan diri sampai melampaui batas, disebutkan, adalah sampai matinya si penyerang.

“Karena itu saya ingatkan agar demonstrasi jangan dilakukan ke kediaman, di mana keluarga yaitu anak, isteri dan orang tua yang tidak tahu apa-apa bernaung untuk hidup. Kita berada di negara-bangsa Indonesia ini untuk hidup bersama, bukan untuk mati bersama-sama,” kata Hendropriyono mengakhiri penjelasannya. []

Pos terkait