Kepung Rumah Mahfud, Pengamat Intelijen Harap Polri Tak Takut Ungkap Jika FPI Terlibat

  • Whatsapp
Stanislaus Riyanta
Stanislaus Riyanta

Inisiatifnews.com – Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta berharap besar agar Kepolisian khususnya Polda Jawa Timur untuk tidak ragu mengungkap keterlibatan ormas manapun termasuk Front Pembela Islam (FPI) jika memang ada bukti kuat.

“Perlu dilakukan pemeriksaan dan pembuktian, jika bukti-bukti sudah cukup maka Polri tidak perlu ragu untuk menyampaikan kepada publik siapa pelakunya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan peristiwa tersebut,” kata Stanislaus kepada Inisiatifnews.com, Minggu (6/12/2020).

Bacaan Lainnya

Baginya, aksi yang dilakukan oleh simpatisan Habib Rizieq yang mengatasnamakan diri Aliansi Ulama atau Umat Islam Kabupaten Pamekasan itu sangat tidak bisa dicontoh dalam kacamata apapun. Maka ia mendorong siapapun yang terlibat agar diproses secara hukum sehingga tidak menjadi preseden yang buruk di kemudian hari.

“Aksi tersebut sangat tidak terpuji, siapapun pelakunya haru diproses hukum,” ujarnya.

Disampaikan alumni S2 Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) itu menegaskan bahwa aksi unjuk rasa atau tindakan penyampaian pendapat di muka umum memang sangat dilindungi oleh Undang-undang sebagai bagian dari kehidupan demokrasi di Indonesia. Namun, kebebasan berpendapat dan berbicara di muka umum itu juga harus dilakukan dengan koridor yang benar.

“Indonesia adalah negara yang menjunjung demokrasi dan menghargai hak warganya yang akan menyampaikan pendapat. Numun, jika hak tersebut dilakukan dengan melangggar hak orang lain misal diganggu, diancam, maka pelaku tetap harus diproses hukum,” tegasnya.

Terakhir, Stanislaus meminta agar Negara tidak kalah dengan para pelanggar hukum. Jika proses hukum tidak dijalankan dengan baik, ia khawatir insiden serupa akan kembali terulang.

“Negara tidak perlu ragu untuk menyampaikannya, karena jika tidak tuntas atau ada pembiaran maka pihak yang dibiarkan akan meningkatkan eskalasinya,” tutup Stanislaus.

Perlu diketahui, bahwa Polri telah menangkap dan menahan satu orang dalam kasus penggerudukan kediaman ibunda Mahfud MD di Kecamatan Bugih, Kabupaten Pamekasan, Madura pada hari Selasa 1 Desember 2020 lalu.

Selain ikut melakukan aksi penggerudukan itu, tersangka yang bernama Aji Dores yang merupakan warga Pamekasan itu juga melontarkan kalimat-kalimat ancaman, yakni mengancam akan membakar rumah Mahfud MD sekaligus membunuh Menko Polhukam itu.

“Ada satu orang yang mengucap bunuh-bunuh. Hari ini kami berhasil menangkap AD,” kata Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nico Afinta di kantornya, Sabtu (5/12).

Dari hasil penangkapan tersebut, didapati barang bukti berupa bukti rekaman yang berisi kalimat ancaman pembunuhan, serta pakaian yang digunakan Aji. Atas tindakannya, tersangka melanggar Pasal 160 KUHP, Pasal 335 KUHP dan/atau Pasal 93 juncto Pasal 9 dengan ancaman penjara enam tahun.

Bahkan ia pun menyatakan akan mendalami dugaan keterlibatan FPI dalam kasus tersebut. “Akan kami dalam apakah ada kaitannya atau tidak,” ujarnya. [MIB]

Pos terkait