PWNU Jatim Nilai Mimpi Ketemu Rasulullah Ala Haikal Hassan Bermuatan Politis

  • Whatsapp
Haikal Hassan
Haikal Hassan

Surabaya, Inisiatifnews.com – Khatib Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Safruddin Syarif menilai bahwa statemen Haikal Hassan Baras tentang mimpi bertemu dengan Rasulullah dalam sambutan kematian acara pemakaman 6 Laskar Front Pembela Islam (FPI) di Megamendung cenderung bertendensi politik dibanding pengungkapan tabir kebenaran.

“Kalau ini kan kentara sekali ada motif. Makanya kemudian saya cenderung tidak percaya apa yang dikatakan Haikal Hassan,” kata Safruddin kepada wartawan, Selasa (15/12/2020).

Bacaan Lainnya

Apalagi ungkapan itu disampaikan Haikal Hassan di tengah situasi pemakaman 6 laskar FPI dalam tragedi berdarah di KM 50 jalan tol Jakarta – Cikampek beberapa waktu yang lalu itu.

“Dan saya melihat ini ada motif-motif politik untuk memberikan satu dukungan dan memberikan penegasan kepada masyarakat supaya kalau mati akan bersama dengan Kanjeng Nabi. Kan gitu seakan-akan. Maka dari itu, perlu dicurigai,” jelasnya.

Oleh karena itu, secara pribadi ia menyatakan tidak percaya dengan pengakuan Haikal Hassan tersebut.

“Artinya, saya pribadi tidak percaya ungkapan Ustaz Haikal Hassan itu,” tambahnya.

Sementara apakah benar Haikal Hassan dengan keterangannya soal mimpi bertemu Rasulullah, itu sebetulnya menjadi domain pria yang kini menjabat sebagai Sekjen HRS Center tersebut.

“Tapi hakikatnya dia sendirilah. Kalau dia bohong, ya dia tanggung jawab sendiri. Karena kita kan tidak tahu,” ujarnya.

Hanya saja menurutnya, mimpi bertemu dengan Rasulullah adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dan orang yang mengalami hal itu cenderung akan menyembunyikannya dan akan menjadi konsumsi pribadi.

“Saya tidak tahu beliau bermimpi sungguh atau tidak. Tapi dari orang itu kan tidak boleh menginformasikan sesuatu yang dapat satu kelebihan (bertemu Rasulullah). Jadi biasanya hal-hal seperti itu tidak dipublikasikan,” terangnya.

Safruddin kemudian menjelaskan orang yang bertemu dengan Rasulullah sebenarnya tidak ada larangan memberitahukan kepada orang. Namun hal itu dikhawatirkan akan menjadi riya.

“Kalau orang yang sering ketemu Nabi itu tak di-publish,” imbuh kiai Safruddin. [REL]

Pos terkait