Akademisi UI: Dewas RRI Butuh Tokoh Muda Dengan Visi Kebangsaan Kuat

  • Whatsapp
IMG 20201217 WA0013
Ketua Prodi Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia (UI) Muhamad Syauqillah. (Foto: Ist)

Inisiatifnews.com – Seleksi Dewan Pengawas (Dewas) Radio Republik Indonesia (RRI) kini telah melewati beberapa tahapan. Dari proses awal ada 672 orang yang mendaftar, yang sudah lolos seleksi administrasi sebanyak 184.

Dari 184, setelah mengikuti tahapan seleksi saat ini tersisa 45 orang calon. Dari jumlah tersebut nantinya akan diambil 15 orang untuk kemudian diserahkan ke Komisi I DPR RI.

Menurut Ketua Prodi Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia (UI) Muhamad Syauqillah, Dewas RRI harus diisi tokoh muda yang memiliki visi Kebangsaan, dan juga profesional. Ini sebagai upaya memanfaatkan RRI menjadi media penyiaran yang mampu melahirkan konten kreatif untuk mengkampanyekan semangat kebangsaan dan kebhinnekaan.

Syauqillah menambahkan, paling tidak ada tiga hal yang harus menjadi perhatian RRI sebagai Lembaga Penyiaran milik Pemerintah, terutama dalam penyajian konten yang mampu meningkatkan jiwa Kebangsaan dan Kebhinnekaan. Pertama, RRI harus menjadi jangkar dan jaring pengaman kokohnya kedaulatan NKRI. RRI harus menjangkau wilayah perbatasan dan pulau terluar Indonesia untuk menghadirkan negara bagi masyarakat di sana.

“Nah konten penyiaran yang dapat disajikan adalah berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan, merangkul mereka sebagai sesama anak bangsa untuk cinta,” papar Muhamad Syauqillah dalam keterangannya, Kamis (17/12).

Kedua, lanjut Syauqillah, bagi masyarakat perkotaan, RRI harus berhadapan dengan ancaman ideologi dan budaya yang selama ini menggerogoti ideologi Pancasila dan keluhuran budaya bangsa atau kontra narasi dan kontra ideologi.

Melalui strategi pengemasan konten, RRI dapat memformulasikan konten-konten pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD’45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dalam sajian kekinian dan membumi. Sehingga dapat meningkatkan resiliensi dan imunitas masyarakat terutama generasi milenial dari paparan intoleransi, radikalisme, terorisme, termasuk fenomena politik identitas dan populisme yang saat ini menguat.

“Kegiatan ini bisa dilakukan misalnya dengan menggandeng tokoh moderat, ormas moderat, kaum profesional dan milenial yang inspiratif,” tambahnya.

Berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah mengadaptasi era digitalisasi. Dalam hal ini RRI harus mengarah pada terbentuknya lembaga penyiaran berbasis digital. Kemasan konten harus terdiseminasi secara luas menjangkau para pengguna media internet dan media sosial. Kalau basisnya internet atau data, maka RRI dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia dimanapun, bahkan masyarakat dunia. Selain itu, basis digital juga dapat mendekatkan RRI dengan generasi milenial.

Sejauh ini, dari beberapa calon yang ada, tutur Syauqillah, dirinya menilai Faizi sebagai salah satu calon Dewas memilki potensi untuk melakukan itu.

“Karena selama ini saya tau track record dan rekam rekam saudara Faizi yang sangat kontributif dalam rangka merawat kebinekaan kita, dalam upaya merawat NKRI, salah satunya lewat medianya yaitu HARAKATUNA,” ungkapnya.

Untuk itu dirinya berharap, Faizi bisa terpilih menjadi Dewas RRI periode 2021-2026, yang akan berkontribusi dalam penjagaan wacacana dan juga nilai-nilai Kebangsaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Itu sebagai memoderasi keagamaan kita, merawat kebinekaan, menjaga kesatuan dan persatuan serta menjunjung tinggi kebersamaan sesama anak bangsa,” pungkasnya. (JUN)