AM Hendropriyono Nilai Agama Harusnya Menyadarkan, Bukan Memabukkan

hendropriyono dan karni ilyas
AM Hendropriyono bertemu Karni Ilyas.

Inisiatifnews.com – Pakar Intelijen asal Indonesia, AM Hendropriyono memberikan penjelasannya terkait dengan hasil perbincangan dirinya dengan Karni Ilyas tentang “mabuk agama” di channel Youtube Karni Ilyas Club.

“Mabuk itu artinya tidak sadar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satu arti mabuk adalah berbuat di luar kesadaran. Mabuk beragama dapat diartikan beragama tapi tak menyadari makna beragama,” kata Hendropriyono, Sabtu (26/12/2020).

Bacaan Lainnya

Karena dasar mabuk agama yang dimaksud sebagai ketidaksadaran seseorang tentang agama yang diyakininya, bisa berujung kepada hal-hal yang justru bisa bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Salah satu yang paling kentara menurut Hendropriyono adalah munculnya gerakan radikalisme di Indonesia.

“Akar dari radikalisme subur di tanah yang masyarakatnya mabuk agama. Mereka mencintai agama tapi tidak memiliki disiplin sosial. Bahwa menjalankan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, harus dilaksanakan sesuai sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab,” jelasnya.

Padahal menurutnya, sebuah agama seharunya menjadi alat bagi manusia untuk sadar tentang siapa dirinya sebagai makhluk sosial dan hamba Tuhan. Bukan malah sebaliknya yang justru menjauhkan diri dengan nilai-nilai kemanusiaan.

“Agama dan beragama harus membuat orang sadar bukan sebaliknya,” ujar Hendropriyono.

“Juga perlu memahami hubungan agama dan Pancasila sebagai falsafah dan asas bernegara. Pancasila justru lahir karena agama, bukan di atas agama. Pancasila juga tidak boleh didikotomikan dengan agama,” tutupnya.

Salah satu netizen pemilik akun twitter @duwetzn merespon kicauan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu. Ia sepakat dengan apa yang diutarakan oleh Hendropriyono, di mana sebuah agama harusnya menjadikan seseorang sebagai orang yang baik, bukan malah menjadikan orang tersebut berperilaku jahat. Jika sampai hal itu terjadi, maka bukan agamanya yang salah, melainkan individu pemeluk agama itulah yang salah dalam memahami agamanya.

“Poinnya, agama akan membuat orang menjadi baik. Kalau malah menjadi jahat, sudah pasti dia salah dalam memahaminya atau tidak sadar bahwa apa yang dipahaminya itu salah,” tulis @duwetzn.

Kemudian, ia juga menyebut bahwa untuk menghindari sikap mabuk agama maka harus belajar agama dari orang tidak sedang mabuk agama juga, melainkan kepada seorang guru yang betul-betul memahami agama secara utuh baik tekstual maupun kontekstualnya.

Karena menurutnya akan sangat berbahaya, bagi orang-orang yang sedang “mabuk agama” mengamalkan agamanya tersebut. Situasi bisa saja akan jauh dari ajaran agama yang sesungguhnya.

“Muridnya mabuk pasti berasal dari guru yang mabuk juga. Kalau dijadikan jurus “dewa mabuk”, maka sangat berbahaya,” tutupnya.

Pos terkait