Refleksi 2020 dan Harapan PBNU di 2021

  • Whatsapp
PBNU
Logo PBNU.

Inisiatifnews.com – Menjelang berakhirnya tahun masehi 2020 yang akan berlangsung beberapa hari ke depan, Pengurus Besan Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan hasil refleksinya di tahun 2020.

Berdasarkan siaran pers yang dibagikan, PBNU memberikan catatan yang positif terhadap beberapa hal di pemerintahan dan negara saat ini. Salah satunya adalah politik kebangsaan.

Bacaan Lainnya

Menurut mereka, sepanjang tahun 2020 ini, masih terjadi banyak sekali persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam konteks ketahanan sosial, yakni keberadaan kelompok intoleran.

“Pada tahun 2020 ini, kita masih menyaksikan intoleransi yang masih merebak, bahkan cenderung meningkat,” kata Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj dalam rilis tersebut, Selasa (29/12/2020).

Untuk menyikapinya, PBNU kembali mewanti-wanti seluruh komponen masyarakat Indonesia untuk kembali kepada jati dirinya sebagai bangsa. Di mana menghargai kemajemukan dan perbedaan yang begitu besar menjadi sebuah keniscayaan.

“Perbedaan harus menjadi energi untuk memproduksi kekuatan kolektif sebagai sebuah bangsa, bukan dijadikan sebagai benih untuk menumbuhkan perpecahan,” tuturnya.

Kemudian, kiai Said Aqil Siradj juga berpandangan bahwa demokrasi sebagai sistem negara memiliki sisi yang sangat positif untuk mengupayakan peningkatan kualitas hidup rakyat Indonesia. Namun di sisi lain, ternyata ada sebuah celah bagi kelompok pengusung ideologi atau paham trans-nasional untuk menyelipkan misi mereka.

Melihat kondisi seperti itu, PBNU menilai bahwa mereka perlu terus menggalakkan upaya yang lebih intensif dan masig dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia untuk tidak terpengaruh dengan paham-paham tersebut.

Bahkan di zaman yang serban canggih, di mana seseorang lebih mudah mengakses dan membagikan informasi apapun juga menjadi salah satu celah. Tak ayal, banyak sekali konten propaganda yang bersifat fitnah dan adu domba marak dikonsumsi publik melalui berbagai platform yang diakses jaringan internet.

“Perlu adanya upaya lebih ekstensif dan intensif dalam membangun narasi-narasi positif dalam wujud konten yang kreatif, sehingga penyebaran berita bohongm fitnah, polarisasi dan radikalisme yang selama ini teresonasi gerakannya melalui media sosial dapat diatasi dengan baik,” jelasnya.


Pos terkait