Komnas HAM Sebut Ada Aksi Saling Seruduk dan Tembak di Karawang

  • Whatsapp
IMG 20210108 190027
Komisioner Komnas HAM RI, Mohammad Choirul Anam.

Inisiatifnews.com – Salah satu komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Mohammad Choirul Anam menyampaikan hasil temuan timnya terkait dengan peristiwa kematian 6 laskar khusus Front Pembela Islam (FPI).

Anam menyampaikan beberapa poin dari kronologi sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.

Bacaan Lainnya

“Bahwa kronologis singkat peristiwa meninggalnya 6 (enam) orang Laskar FPI dilatarbelakangi adanya kegiatan pembuntutan terhadap Muhammad Rizieq Shihab yang secara aktif dimulai sejak tanggal 6-7 Desember 2020 di saat rombongan MRS bersama sejumlah pengawal berjumlah 9 (Sembilan) unit kendaraan roda empat bergerak dari Perumahan The Nature Mutiara Sentul ke sebuah tempat di Kabupaten Karawang, Jawa Barat,” kata Anam dalam konferensi persnya, Jumat (8/1/2021).

Saat itu, kata Anam, rangkaian mobil rombongan Rizieq Shihab telah dibuntuti oleh anggota Kepolisian dari Polda Metro Jaya sejak keluar dari gerbang komplek perumahan, masuk ke Gerbang Tol Sentul Utara 2 hingga Tol Cikampek dan keluar pintu Tol Karawang Timur.

“Pergerakan iringan mobil masih normal. Meskipun saksi FPI mengatakan adanya manuver masuk ke rombongan, versi polisi mengaku hanya sesekali maju mendekat dari jalur kiri tol untuk memastikan bahwa target pembuntutan berada dalam iring-iringan mobil rombongan,” ujarnya.

Setelah rombongan keluar di Pintu Tol Karawang Timur, mereka tetap diikuti oleh beberapa kendaraan yang melakukan pembuntutan. Sebanyak 6 (enam) mobil rombongan MRS melaju lebih dulu dan meninggalkan 2 (dua) mobil pengawal lainnya, yaitu mobil Den Madar (Avanza silver) dan Laskar Khusus (Chevrolet Spin) untuk tetap menjaga agar mobil yang membuntuti tidak bisa mendekati mobil Habib Rizieq Shihab dan rombongan.

“Kedua mobil FPI tersebut berhasil membuat jarak dan memiliki kesempatan untuk kabur dan menjauh, namun mengambil tindakan untuk menunggu. Akhirnya, mereka bertemu kembali dengan mobil petugas K 9143 EL serta 2 (dua) mobil lainnya, yaitu B 1278 KJD dan B 1739 PWQ,” terangnya.

Kemudian, Choirul Anam juga menyebut, bahwa ada 2 (dua) unit mobil pengawal Rizieq, Markas Daerah Laskar Pembela Islam (Madar LPI) dan Laskar Khusus yang masing-masing berisi 6 (enam) orang melewati sejumlah ruas jalan dalam kota Karawang dan turut diikuti oleh tiga mobil pembuntut. Mereka antara lain melewati Jalan Raya Klari, melewati Jalan Raya Pantura (Surotokunto) Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Tarumanegara, Jalan Internasional Karawang Barat, hingga kembali masuk melalui gerbang Tol Karawang Barat.

Dalam peristiwa itu juga, tim pemantauan dan penyelidikan Komnas HAM mendapati aksi kejar-kejaran antara kendaraan milik laskar dengan anggota Kepolisian di Jalan Tol Jakarta – Cikampek. Bahkan ada juga insiden saling tembak antara kedua belah pihak.

“Bahwa didapatkan fakta telah terjadi kejar mengejar, saling serempet dan seruduk, serta berujung saling serang dan kontak tembak antara mobil Laskar Khusus FPI dengan mobil Petugas, terutama sepanjang jalan Internasional Karawang Barat, diduga hingga sampai KM 49 dan berakhir di KM 50 Tol Jakarta Cikampek,” paparnya.

Dua orang laskar khusus FPI tewas pertama

Dalam peristiwa saling serang tersebut, dua orang anggota Laskar Khusus FPI tewas terlebih dahulu, yakni tepatnya di KM 50 Jalan Tol Jakarta – Cikampek.

“Bahwa di KM 50 Tol Cikampek, 2 (dua) orang anggota Laksus ditemukan dalam kondisi meninggal, sedangkan 4 (empat) lainnya masih hidup dan dibawa dalam keadaan hidup oleh petugas kepolisian,” terang Anam.

Namun 4 orang yang dibawa dalam kondisi masih hidup itu akhirnya ditempat mati oleh petugas karena melakukan upaya yang dirasa petugas Kepolisian mengancam keselamatan jiwa mereka. Namun diakui Anam bahwa informasi ini tidak ada data pembandingnya.

“Bahwa empat anggota Laksus tersebut kemudian ditembak mati di dalam mobil petugas saat dalam perjalanan dari KM 50 ke atas menuju Polda Metro Jaya dengan informasi hanya dari petugas kepolisian semata bahwa terlebih dahulu telah terjadi upaya melawan petugas yang mengancam keselamatan diri sehingga diambil tindakan tegas dan terukur,” terang lagi.

Masih dari informasi yang didapat dari petugas Kepolisian pula, bahwa dari peristiwa itu, anggota yang bertugas mengamankan sejumlah senjata yang disebut milik para laskar FPI itu. Antara lain dua pucuk senjata api gagang cokelat dan putih, dua bilah pedang, sebilah celurit dan satu buah tongkat kayu runcing.

“Petugas mengaku mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua buah senjata rakitan jenis Revolver gagang coklat dan putih, sebilah samurai (katana -red), sebilah pedang, celurit, dan sebuah tongkat kayu runcing,” imbuhnya. [NOE]


Pos terkait