Alumni Jogja Nilai Penolak Listyo Kapolri Tak Paham Bhineka Tunggal Ika

  • Whatsapp
kabareskrim polri komjen listyo sigit prabowo 169
Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Inisiatifnews.com – Forum Alumni Mahasiswa Jogyakarta (FAMAJA) mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang memilih Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Calon Kapolri.

Menurut mereka, penunjukan Komjen Pol Listyo merupakan kewenangan presiden sebagai kepala negara.

Bacaan Lainnya

“Saya atas nama Forum Alumni Mahasiswa Jogyakarta (FAMAJA) memberikan dukungan penuh kepada pilihan Bapak Presiden atas Komjen Listyo Sigit Prabowo untuk menduduki jabatan sebagai Kapolri pengganti Jenderal Idham Aziz yang sebentar lagi masuk masa pensiun,” kata Ketua FAMAJA, Song Taro Song dalam keterangannya, Kamis (14/1/2021).

Song Taro Song menyayangkan jika ada pihak yang menolak Komjen Listyo hanya karena masalah sektarian, yakni agama sang perwira tinggi Polri itu.

Kata Sang Taro Song, sebagai bangsa besar yang mengusung Bhinneka Tungkal Ika, sudah seharusnya keberagaman menyatu dalam hati dan perilaku masyarakat Indonesia.

“Kita ini bangsa besar. Mengusung Bhinneka Tunggal Ika sebagai salah satu pilar dalam berbangsa, dan bernegara tidak hanya untuk jadi hapalan di kepala rakyat di bangsa ini,” ujarnya.

“Dengan penunjukan Komjen Listyo ini, Forum Alumni Mahasiswa Yogyakarta hendak memastikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika dalam bernegara ini tidak hanya kita imani, tapi kita patuhi dengan tindakan dalam berbangsa, dan bernegara,” tambahnya.

Ia juga menuturkan, bahwa setiap warga Indonesia perlu ruang kepada siapapun untuk menduduki jabatan selama perundang-undangan mengafirmasinya dengan baik.

“Mereka yang tak setuju dengan pilihan presiden ini sangat mungkin karena perasaan sektarianisme sempit dalam memandang cara mengelola negara,” jelasnya.

Ia meminta semua warga untuk bijak dalam berpikir dan melihat ke depan dengan jernih. Setiap orang tidak boleh merasa benar sendiri dan hanya memberikan kesempatan kepada golongannya untuk menduduki jabatan penting di negeri ini. Indonesia menurutnya merupakan negara besar yang bisa memberi contoh tentang bagaimana mengedepankan keberagaman, penghargaan atas kesamaan hak di mata hukum, dan administrasi negara.

“Terlalu lama merasa benar dengan satu spektrum membuat mereka merasa berada di jalur yang salah jika ada spektrum baru yang hadir ke tengah-tengah mereka,” pungkasnya. [KSM]


Pos terkait