Waspada Narasi HTI, Bisa Jadi Virus Generasi Muda Indonesia

  • Whatsapp
IMG 20210122 114935
Istimewa.

Malang, Inisiatifnews.com – Ustadz Nasir Abas, mantan petinggi Jamaah Islamiah (JI) yang merupakan salah satu organisasi teror di dunia menceritakan pengalaman yang ia miliki dalam Webinar Nasional 2021 Yang diselenggarakan UPT Pusat Pengkajian Pancasila (P2P) Universitas Negeri Malang, dengan tema “Meredam Radikalisme Dengan Harmoni Pancasila”, Kamis (21/1/2021).

Nasir Abas mengungkapkan Bahwa ada tahapan yang menyebabkan orang yang akhirnya bisa bergabung dengan kelompok teror. Yang pertama di awali oleh gagal paham / salah paham yang berakibat pada sikap yang tidak mau menerima perbedaan. Sikap tersebut akhirnya menuju potensi tahapan selanjutnya yakni perilaku intoleransi. Setelah sampai pada perilaku intoleran maka seseorang dapat berpaham radikalisme, dan pada puncak bisa menjadi teroris.

Bacaan Lainnya

Untuk itu Nasir Abas mewanti para mahasiswa untuk lebih berhati-hati terhadap tahapan-tahapan tersebut agar jangan sampai terjerumus.

Nasir kemudian juga menjelaskan bagaimana modus kelompok radikalisme atas nama Islam di Indonesia. 

“Modus pihak pok radikal atas nama Islam di Indonesia adalah dengan mengajak penegakan daulah / khilafah yakni melalui tiga cara ; pertama fokus di dakwah saja seperti eks HTI, ada yang fokus menggunakan kekuatan senjata misal MIT Poso dan juga ada yang memakai keduanya misal JI, NII dan JAD,” jelas Nasir. 

Sementara itu narasumber yang lain yakni Dr. Ainur Rofiq yang merupakan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dalam paparannya menjelaskan kriteria kelompok radikal di Indonesia. Pertama mereka yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI serta ingin keluar dari NKRI, kedua mereka yang takfiri mudah mengkafirkan sesama.

Dr Ainur Rofiq yang dulu pernah aktif di Hizbut Tahrir kemudian keluar dan kini sangat anti terhadap HTI. Ia menjelaskan kelompok HTI saat ini gerakannya perlu diwaspadai karena dapat menurunkan daya imun khususnya generasi Y dan Z. Bahwa kelompok HTI membuat doktrin bahwa menegakan khilafah adalah wajib dan pihak yang menentang merupakan perbuatan maksiat besar yang akan mendapat hukuman siksaan yang pedih. Ada juga virus melalui doktrin yang disebarkan oleh HTI bahwa khilafah merupakan ajaran yang telah tercantum di kitab kuning atau klasik, padahal mereka hanya melakukan kutipan secara parsial. 

“Hal tersebut jika di tangkap oleh khususnya generasi Y dan Z maka akan jadi virus yang dapat mengganggu psikologis mereka dan dapat menurutkan daya imun merek,” ujarnya.

Oleh karena ia pun meminta agar gerakan-gerakan kelompok radikal termasuk HTI perlu dilakukan kontra narasi sebagai vaksinasi sehingga keraguan-keraguan generasi tersebut dapat teratasi. 

Salah satu yang juga ditekankan oleh Ainur Rofiq adalah terkait dengan Islam dan Pancasila. Antara Islam dan Pancasila adalah kompatibel. Bahkan sejak dulu misalnya pada Munas Alim Ulama NU Tahun 1983 di Situbondo menyimpulkan bahwa menerima Pancasila adalah manifestasi dari menjalankan syariat Islam. [REL]


Pos terkait