Ada Klarifikasi Thamrin Tomagola, Muannas : Pandji Jago Adu Domba

  • Whatsapp
Muannas Alaidid
Ketua Umum Cyber Indonesia, Habib Muannas Alaidid. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.com – Ketua Umum Cyber Indonesia, Habib Muannas Alaidid menilai bahwa komedian Pandji Pragiwaksono pandai sekali melakukan adu domba.

“Cukup sudah, Pandji memang jago adu domba,” kata Muannas, Sabtu (23/1/2021).

Bacaan Lainnya

Apalagi setelah ada klarifikasi dari Thamrin Amal Tomagola, bahwa apa yang disampaikan oleh Pandji dengan mengutip ucapan dirinya tidak sesuai.

Atas dasar itu, Muannas menilai ada unsur pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono terhadap Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Ada dugaan Pandji tidak hanya terindikasi cemarkan nama baik NU dan Muhammadiyah, tapi dugaan sebarkan kabar bohong karena ternyata pak Thamrin nyatakan, bahwa kyai NU di pedesaan Jawa dan Kalimantan terbuka untuk masyarakat ini tidak sampaikan utuh,” ujarnya.

Klarifikasi Thamrin Tomagola

Perlu diketahui, bahwa sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tomagola telah memberikan klarifikasinya terkait konten video yang dibuat oleh Pandji Pragiwaksono, yakni terkait dengan perbedaan Front Pembela Islam (FPI) dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Di dalam percakapan dirinya dengan Pandji pada tahun 2012 silam itu, Thamrin menyatakan bahwa konteks yang dibahas adalah persoalan kelompok masyarakat miskin kota di kampung kumuh Jakarta.

“Konteks pembicaraan saat itu adalah membahas kondisi kehidupan kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin Jakarta,” jelasnya.

Menurut perspektif Thamrin, saat itu organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama kurang dilihat menyambangi kelompok tersebut. Sementara ruang kekosongan itu, FPI masuk.

“NU dan Muhammadiyah kurang menyambangi dan mendampingi meringankan beban kehidupan Ummat kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin Jakarta. Kekosongan pendampingan itu kemudian diisi oleh FPI,” imbuhnya.

Masih di dalam perspektifnya pula, FPI merasa bahwa kiai kampung seharusnya pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapapun. Konsep ini menyontoh para kiai NU di wilayah Jawa dan Kalimantan.

“FPI punya konsep “kiai kampung yang pintu rumahnya terbuka 24 jam untuk ummat kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin Jakarta”. Sama seperti terbukanya 24 jam pintu rumah para kiai NU di pedesaan Jawa dan Kalimantan,” paparnya.

Terakhir, alumni Universitas Nasional Australia itu tak tahu menahu diksi “rakyat” dan “elitis” yang diutarakan Pandji dalam konteks perspektifnya itu.

“Penggunaan kata-kata: “rakyat” dan “elitis” sebaiknya ditanyakan kepada saudara Panji sendiri. Salam sehat selalu,” tutup Thamrin.


Pos terkait