Karyono Ingatkan AHY Hati-hati Tuduh Istana Sembarangan

  • Whatsapp
karyono wibowo
Direktur eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo.

Inisiatifnews.com – Direktur eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mewanti-wanti agar Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersikap hati-hati tentang polemik yang ada di internal partainya. Apalagi sampai melakukan tudingan bahwa Istana adalah pihak yang diindikasi bertanggungjawab atas isu pengambil-alihan partainya itu.

“Masalah ini sangat sensitif, apalagi pernyataan AHY membawa-bawa istana. Hemat saya, jika tidak hati-hati justru membawa resiko buruk dan bisa berpotensi menjadi bumerang. Istana yang dituduh bisa melakukan serangan balik. Ini yang perlu kalkulasi,” kata Karyono, Selasa (2/2/2021).

Bacaan Lainnya

Apalagi tudingan semacam itu disampaikan kepada publik sehingga menjadi konsumsi banyak kalangan dan berpotensi memunculkan spekulasi liar di kalangan masyarakat luas.

Jika memang AHY adalah pemimpin partai yang matang, seharusnya sikap tabayyung menjadi penting sebelum bersemangat untuk mengumumkan kepada publik sesuatu yang masih belum jelas.

“Jika ada sinyalemen sebagaimana diungkapkan, semestinya disikapi secara bijak dan tabayyun sebelum menyampaikan ke publik secara terbuka,” ujarnya.

Karyono hanya khawatir jika putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya baper semata kemudian terlalu cepat mengambil langkah yang kurang terukur.

“Bagaimanapun seorang pemimpin sebaiknya tidak “tipis telinga” dan tidak “grusa grusu” dalam berpikir dan bertindak. Sifat ‘baper’ juga harus dibuang jauh-jauh karena ketiga sifat tersebut bisa menimbulkan dampak buruk terhadap organisasi,” tuturnya.

Seandainya sinyalemen yang dituduhkan mengarah pada sosok Jenderal TNI (purn) Moeldoko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) dan sejumlah nama menteri yang diduga oleh AHY ikut mendukung upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, sebaiknya pula perlu dipastikan kebenarannya.

“Jika memang ada data atau bukti yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan maka pernyataan AHY perlu dilengkapi dengan data dan bukti-bukti otentik. Pun masalah ini tidak bisa digeneralisasi bahwa itu merupakan kepentingan pusat kekuasaan di Istana yang melibatkan Presiden Joko Widodo,” paparnya.

“Dalam konteks inilah AHY perlu hati-hati dalam melontarkan pernyataan,” imbuh Karyono.

Selain itu, Karyono juga menyayangkan sampai saat ini AHY pun belum menunjukkan bukti-bukti kuat tentang dugaan keterlibatan pihak Istana tentang isu pengambil-alihan paksa Partai Demokrat. Jika AHY tidak segera mengungkapkan bukti kuat yang ia miliki, maka dikhawatirkan daya rusaknya bisa mengarah kepada kedua belah pihak, baik Demokrat sendiri maupun pemerintah.

“Jika AHY tidak mengungkap bukti-bukti yang bisa dipertanggung jawabkan, maka akan muncul asumsi, ada kecenderungan sinyalemen tersebut sengaja diolah untuk konsumsi politik yang dikapitalisasi untuk kepentingan citra AHY dan Demokrat yang cenderung meredup. Di satu sisi untuk mendowngrade citra pemerintahan saat ini,” ucapnya.

Ada konflik internal Partai Demokrat

Masih dalam kesempatan itu, Karyono Wibowo justru berpandangan lain, di mana sikap AHY tersebut justru menunjukkan bahwa ada yang tidak beres di dalam internal partai Demokrat sendiri.

“Pernyataan AHY yang menimbulkan polemik ini justru menunjukkan ada benih-benih konflik di dalam Demokrat sendiri,” kata Karyono.

Ini bisa dilihat dari sikap SBY yang meletakkan putranya yang notabane bukan berasal dari kader Partai secara struktural, kemudian bisa memimpin partai berlambang mersi itu secara instan. Sontak kecemburuan sosial di dalam internal partai tersebut sulit dielakkan.

“Sulit ditepis, ada beberapa kelompok di internal yang juga menginginkan kekuasaan berpindah. Jika disimak, dinamika politik di internal Demokrat sejak Kongres Bandung, hingga kongres terpilihnya AHY memberikan telah memberi isyarat ada kelompok yang ingin melepaskan Demokrat lepas dari bayang-bayang dinasti Cikeas,” pungkasnya.


Pos terkait