Muannas Alaidid Peringatkan Novel Baswedan Tak Perkeruh Suasana

  • Whatsapp
muannas alaidid
Advokat dan Ketua Umum Cyber Indonesia, Habib Muannas Alaidid. [foto : Istimewa]

Ketua Umum Cyber Indonesia, Habib Muannas Alaidid memperingatkan kepada penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan agar tidak memperkeruh suasana dengan menciptakan isu dan sentimen baru.

“Twit ini sebaiknya dihapus, jangan sampai Anda dianggap menyebarkan hoax. Apalagi anda bukan penyidiknya yang menangani kasusnya,” kata Muannas, Rabu (10/2/2021).

Bacaan Lainnya

Persoalan penahanan almarhum Ustadz Maaher At-Thuwailibi oleh Tim Cyber Bareskrim Mabes Polri adalah bentuk delik umum yang telah dilaporkan karena dugaan adanya penghinaan terhadap ulama Nahdlatul Ulama, yakni Habib Luthfi bin Yahya.

“Laporan Maheer bukan delik pribadi soal penghinaan seperti yang Anda tuduhkan, melainkan delik umum kebencian SARA yang kebetulan dilakukan terhadap ulama NU yang dimuliakan,” ujarnya.

Kemudian, Muannas juga mengingatkan kepada Novel agar tidak serampangan dalam memberikan komentar. Karena berdasarkan faktual dan keterangan dari Mabes Polri, Maaher tidak ditahan dalam kondisi sakit. Dan saat mengeluhkan penyakitnya, Maaher pun selalu dibawa ke Rumah Sakit Kramat Jati untuk mendapatkan penanganan medis.

“Dan tak ada orang sakit ditahan. Kalau Anda ikuti statemen Polri terakhir, Maaher sempat diantarkan di RS Kramat Jati sewaktu menjadi tahanan Polri, sudah seminggu ia pulang usai perawatan dan sebelum meninggal 3 hari lalu Maaher sudah berstatus tahanan Kejaksaan yang dititipkan di rutan Polri,” jelas Muannas.

Kemudian setelah resmi menjadi tahanan Kejaksaan, belum ada pihak keluarga maupun kuasa hukum Maaher yang mengajukan keberatan penahanan dari pihak Kejaksaan.

“Jadi setelah status tahanan pindah dari Polri ke Kejaksaan, saya belum tahu apakah keluarga atau kuasa hukumnya ajukan pembantaran lagi ke Kejaksaan ketika Maaher kembali jatuh sakit usai jalani perawatan di RS Polri sehingga telat dan tidak tertolong,” imbuhnya.

Menurut Muannas, seharusnya perwira polri yang kini bertugas di lembaga anti-rasuah itu mempertanyakannya langsung kepada penyidik atau pihak yang berkompeten dalam menjelaskan persoalan. Bukan malah melempar wacana yang justru bisa memperkeruh situasi.

“Mestinya itu yang ditanyakan, jangan manasin situasi,” tegasnya.

Perlu diketahui, bahwa Maaher At-Thuwailibi meninggal dunia pukul 19.00 WIB, Senin (8/2) di dalam Rutan Bareskrim Mabes Polri. Ia meninggal dunia karena mengeluhkan sakit usus yang ternyata sudah lama ia idap.

Mendapati kabar meninggalnya tersangka kasus ujaran kebencian terhadap Habib Luthfi bin Yahya itu, penyidik senior KPK Novel Baswedan memberikan responnya. Ia menyangsikan institusi penegak hukum tetap memaksanakan untuk menahan Maaher dalam kondisi sedang sakit.

“Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Ustadz Maaher meninggal di rutan Polri. Pdhl kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Org sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jgn keterlaluanlah.. Apalagi dgn Ustadz. Ini bukan sepele lho..,” tulis Novel di akun twitter pribadinya @nazaqistsha. []


Pos terkait