Alissa Wahid Tegaskan Tak Akan Perkarakan Kekeliruan Rachland Nashidik

  • Whatsapp
IMG 20190219 WA0110
Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan Alissa Wahid saat menjadi narasumber dialog kebangsaan di Stasiun Tugu Yogyakarta, Selasa (19/02/2019) malam.

Inisiatifnews.com – Putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahida alias Alissa Wahid menyatakan, bahwa keluarga besar Ciganjur tidak akan menempuh jalur hukum terhadap kekeliruan elite Partai Demokrat Rachland Nashidik.

“Tidak perlu (somasi atau langkah hukum),” kata Alissa Wahid, Sabtu (20/2/2021).

Bacaan Lainnya

Alissa menganggap, bahwa ruang perdebatan masih perlu dirawat, selama tidak diisi dengan konteks pelanggaran harkat dan martabat kemanusiaan.

“Kita perlu belajar menerima perdebatan dengan lebih santai, sepanjang tidak menciderai harkat martabat kemanusiaan atau kabar bohong,” ujarnya.

Polemik tentang makam ayahandanya itu hanya wujud ketidaktahuan dari Rachland semata. Sayangnya, kekurang-pahaman tersebut sudah didahului oleh emosional sehingga keluarlah kicauan di akun Twitter tersebut.

“Saya menduga bung Alan nggak tahu info saja, keburu ngegas. Jadi ya, itu maksimal kategori khilaf, bukan jahat,” tandasnya.

Sebelumnya, Rachland Nashidik membuat kicauan tentang polemik pembangunan Museum dan Galeri Seni SBY ANI Pacitan, Jawa Timur. Ia menilai bahwa musem semacam itu wajar saja ada di Indonesia.

“Tak ada yang salah dengan Museum Kepresidenan. Kita punya museum Bung Karno dan Amerika Serikat punya museum dari Presiden-Presidennya. Museum adalah jejak bagi ingatan sejarah, bisa juga rujukan bagi standar pencapaian pada suatu bangsa. Dan obyek wisata bagi pendapatan daerah,” tulis Rachland di akun twitternya @RachlanNashidik, Rabu (17/2).

Kicauan Rachland ini pun mendapatkan respon dari netizen @EAndalusy. Di mana netizen tersebut menilai bahwa pembangunan museum tersebut tidak menjadi soal ketika dibangun atas biaya pribadi, bukan dari uang negara.

“Memang tdk ada yg salah dan tdk ada yg menyalahkan kalau pembiayaan pembangunannya bersumber dari pribadi, yg bikin prihatin dan tuhan tidak suka kok teganya dimasa krisis pandemi ini ada yg ngemis anggaran hanya demi museum keluarga,” tulisnya.

Sontak, komentar netizen itu direspon oleh Rachland. Sayangnya, ia menyeret makam almarhum Gus Dur di dalam polemik tersebut.

“Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov — itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga. Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?,” balas Rachland.

Di komentarnya itu, Rachland juga menautkan sebuah berita dari Kompas.com dengan judul Makam Gus Dur Dibuat Senyaman Mungkin yang diterbitkan pada hari Senin 20 September 2010 pukul 18.51 WIB.

Namun jika dibaca isi dari berita yang diturunkan oleh Kompas.com, pemerintah tidak membangun makam Gus Dur, melainkan membangun infrastruktur di kawasan makam yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

“Sesuai permintaan keluarga, bukan makamnya. Tapi lingkungannya sehingga jumlah peziarah yang ribuan tiap hari akan nyaman dan memperoleh manfaat yang baik, lalu akan merasa nyaman,” ujar Menko Kesra Agung Laksono dalam keterangan pers di Istana Negara seusai rapat terbatas dikutip dari situas Kompas.


Pos terkait