Wempy Hadir Prediksi Bursa Pilpres 2024 Hadirkan 3 Paslon

  • Whatsapp
Wempy hadir
Wempy Hadir.

Inisiatifnews.com – Peneliti dari Indopolling Network, Wilhelmus Wempy Hadir menilai, bahwa pertemuan politik antara Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dengan Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh bisa membuka peta politik baru di Pilpres 2024 mendatang.

Apalagi pembicaraan kedua tokoh tersebut juga membahas terkait konvensi capres 2024 yang akan dilakukan oleh kedua partai.

Bacaan Lainnya

“Bisa menjadi pembicaraan awal menuju koalisi pilpres 2024,” kata Wempy kepada wartawan, Senin (1/3/2021).

Menurutnya, jika konvensi berhasil dilakukan, maka posisi calon wakil presiden akan diberikan kepada partai Golkar.

“Sebagai ketua umum, Airlangga Hartanto mempunyai privilege untuk menjadi cawapres. Tinggal menunggu hasil konvensi capres nanti jatuh ke siapa,” imbuhnya.

Secara elektoral, Golkar dan Nasdem memiliki kekuatan sebesar 25,4 persen dari jumlah kursi DPR RI. Jika PKS juga akan ikut bergabung, maka secara elektoral poros ini mempunyai 34,1 persen kursi DPR RI.

“Itu artinya mereka sudah layak secara undang-undang untuk mengusung paket capres dan cawapres pada pilpres 2024 nanti,” ujar Wempy.

Selanjutnya, untuk poros yang kedua adalah koalisi PDI Perjuangan dengan Partai Gerindra. Poros PDIP-Gerindra merupakan poros yang mempunyai kekuatan yang signifikan. Apalagi kedua partai ini merupakan rulling party. Dengan demikian mempunyai sumber daya kekuasaan yang sangat berpengaruh untuk memenangkan pilpres 2024.

Namin bisa saja partai PKB akan bergabung dengan poros kedua tersebut. Jika prediksi itu benar terjadi, maka koalisi PDI Perjuangan – Partai Gerindra dan PKB sudah berhak untuk mengusung capres dan cawapres di Pilpres 2024 mendatang.

“Secara elektoral perolehan kursi DPR RI untuk poros ini adalah 45,92 persen,” jelasnya.

“Bahkan PDI Perjuangan sendiri sesungguhnya tanpa harus berkoalisi pun bisa mengusung capres dan cawapres sendiri karena mempunyai kursi DPR RI sekitar 22,26 persen,” sambung Wempy.

Sementara untuk poros ketiga adalah poros Partai Demokrat yang mungkin saja akan menggandeng PAN dan PPP. Dengan demikian poros ini bisa mengusung capres dengan cawapres sendiri.

“Karena secara elektoral mereka mempunyai perolehan kursi DPR RI sekitar 20,34 persen,” tandasnya.

Namun demikian, Wempy menyebut bahwa pilpres masih jauh, tentu sangat bisa saja apa yang dilakukan oleh Nasdem dan Golkar hanyalah manuver politik semata untuk menaikan posisi tawar mereka dalam koalisi yang ada hari ini. Apalagi kedua partai tersebut merupakan mitra koalisi pemerintah saat ini.

“Jadi menurut saya rencana koalisi yang dibangun masih sangat rapuh di tengah partai masih membutuhkan posisi kekuasaan dalam kabinet Jokowi-Maruf Amin,” ucapnya.

Hal ini terbukti dalam pembahasan RUU Pemilu saja, pada awalnya Fraksi Nasdem dan Golkar getol mendorong revisi, akan tapi dalam perjalanan setelah dilakukan komunikasi dengan presiden Jokowi, semua berbalik arah. Bisa saja pembahasan konvensi dan koalisi Nasdem-Golkar akan bubar di tengah jalan jika tidak kuat menghadapi dampak politis dari koalisi yang dibangun terlalu dini tersebut.

Bisa saja Jokowi akan merapihkan kembali kabinetnya dan membuang partai-partai yang tidak sejalan lagi menuju 2024.

“Jika itu yang terjadi, maka Nasdem dan Golkar perlu bekerja keras untuk melakukan konsolidasi politik,” pungkasnya. []

Pos terkait