Halau Gerakan Radikal, Semua Ormas Diharap Lakukan Kerja Kolektif

  • Whatsapp
webinar
Foto : Istimewa.

Inisiatifnews.com – Organisasi kemasyarakatan Brigade Muslim Indonesia menggelar acara diskusi untuk mengupas isu radikalisme yang saat ini ada di Indonesia bahkan di dunia.

Ketua Yayasan Sikawarui Appa Sulafa yang juga aktivis Muslim, Muchtar Daeng Lau menyampaikan pandangannya tentang isu yang cukup sensitif ini. Menurutnya, persoalan radikalisme tidak bisa begitu saja disematkan terhadap satu agama tertentu, misalnya Islam. Karena faktanya berdasarkan sepengetahuannya, radikalisme juga ada di hampir semua agama di dunia.

Bacaan Lainnya

“Paham serta gerakan radikalisme tidak boleh langsung ditujukan pada agama tertentu. Sebab hampir semua penganut agama ada radikalismenya,” kata Muchtar dalam diskusi virtual di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (23/3/2021).

Salah satu antan narapidana terorisme (napiter) ini menyampaikan salah satu fakta jika radikalisme hingga terorisme juga ada menyelimuti umat agama lainnya.

“Seperti misalnya di New Zeland, ada penembakan terhadap penganut Islam, juga kasus serupa sering terjadi di Amerika Serikat dan beberapa Negara lain sehingga itu juga merupakan gerakan radikalisme,” sebutnya.

Namun, Muchtar menerangkan bahwa radikalisme bukan begitu saja berasal dari faktor agama, melainkan dari personalitas orangnya yang sebenarnya tidak memahami betul agama yang mereka anut, sehingga memunculkan pemikiran yang salah dan cenderung bisa membahayakan.

“Pelaku yang sudah terpapar paham radikal kemudian melakukan aksi terorisme adalah mereka yang tidak punya pemahaman lengkap dan utuh tentang ajaran agama,” terangnya.

Sebagai orang yang pernah terjun di lingkungan negatif itu, Muchtar memberikan saran agar negara turun tangan secara total untuk melakukan deradikalisasi. Tujuannya adalah penyadaran terhadap mereka yang terpapar pemahaman radikal untuk membenahi diri dan pemikiran mereka yang cenderung membahayakan diri dan orang lain itu.

Hanya saja, deradikalisasi ini juga dilakukan secara masif dengan memperbaiki persoalan yang menjadi kegelisahan para pelaku berpaham radikal ini, yakni tentang ketimpangan ekonomi dan penegakan supremasi hukum yang benar-benar adil.

“Dalam rangka meminimalisasi paham dan gerakan radikal ini, Negara harus senantiasa hadir dalam menjawab setiap persoalan yang dihadapi, terutama dalam mengatasi ketimpangan ekonomi dan perwujudan keadilan bagi semua masyarakat tanpa pandang bulu,” paparnya.

Generasi muda Indonesia jadi target empuk

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Makassar, Muhammad Harun menyampaikan, bahwa anak-anak muda generasi bangsa Indonesia adalah kelompok masyarakat yang menjadi target empuk bagi kelompok radikal untuk menjaring anggotanya.

“Kalangan Pemuda adalah lahan empuk dalam pola perekrutan dari kelompok pengusung gerakan radikal,” kata Harun.

Hal ini lantaran anak-anak muda cenderung merupakan kelas masyarakat yang masih mencari jati diri, namun berbarengan dengan itu, mereka juga memiliki semangat yang membara. Jika dua hal ini disusupi oleh pemahaman yang salah, maka outputnya pun bisa memiliki daya rusak yang sangat tinggi.

“Sebagai mana kita ketahui bersama, bahwa pemuda ini memiliki ghirah atau semangat, dan apabila tidak dibarengi dengan basic ilmu dan pemahaman yang memadai tentu sangat berpotensi untuk ikut terjerumus,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu pula, Harus memberikan pemahaman bahwa berdasarkan pemikiran organisasinya, yakni Nahdlatul Ulama (NU), ada pokok-pokok yang bisa dijadikan tameng agar terhindar dari doktrin paham radikal yang ada.

“Nahdatul Ulama (NU) selalu mengedepankan sikap tasamuh (toleransi) tawasut (sikap pertengah) dan tawazun (seimbang),” ujar Harun.

Bahkan kata Harun, NU adalah salah satu organisasi kemasyarakatan berbasis Islam terbesar di Indonesia itu menjadi salah satu yang aktif melakukan deradikalisasi ini.

“NU merupakan Ahlul Sunnah wal Jamaah terus menggencarkan bidang dakwah, kemudian bidang sosial seperti terus menghidupkan dialog dan bakti sosial, juga gerakan pemberdayaan ekonomi,” sebutnya.

Lebih lanjut, Harun juga berharap kepada seluruh ormas di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan kepemudaan juga ikut aktif dalam memberikan pemahaman serta mendidik dengan baik para kader-kader muda bangsa agar tidak terpapar paham radikal. Karena menurutnya, ini menjadi tugas dan tanggungjawab kolektif.

“Saya mengajak kepada semua pegiat ataupun praktisi ormas kepemudaan agar mampu memfungsikan lembaga dengan baik, seperti menjadi wadah berkreasi bagi Pemuda, sehingga para pemuda tidak mudah terjerumus dalam kegiatan yang mengarah kepada tindakan radikal,” tutur Harun.

Peran penting keluarga dan lingkungan halau radikalisme

Ketua Harian Laskar Merah Putih Sulawesi Selatan, Maulana Yusdianto menyampaikan di dalam kesempatan yang sama, yakni berharap betul keluarga bisa menjadi lingkungan paling efektif menghalau pemahaman radikal masuk ke kalangan anak-anak dan generasi muda Indonesia.

“Betapa pentingnya peran keluarga dan institusi pendidikan sebagai upaya pencegahan dini dari ancaman paham dan gerakan radikalisme,” kata Maulana.

Selain itu, lingkungan bermasyarakat juga perlu dikelola dengan baik agar para generasi muda tidak terjerumus dengan pemikiran-pemikiran ekstrem.

“Perlunya dibangkitkan kembali nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan dalam bertetangga, terlebih dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Disebutkan Malulana, fakta di lapangan bahwa londisi yang saat ini terjadi, kadang dengan tetangga saja tidak saling mengenal. Menurutnya, persoalan cukup serius.

“Nanti pada saat ada tetangga kita yang terlibat kasus,misalnya baru ketahuan, padahal ini kan semestinya tingkat RT dan RW sudah bisa mendeteksi semua warganya sejak dini. Nilai nilai itu yang kian hilang,” jelasnya.

Sebagai salah satu kader ormas kepemudaan, Maulana menyatakan jika pihaknya akan tetap berada di garda terdepan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya jika ada pihak-pihak tertentu yang merongrong persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

“NKRI sudah menjadi harga mati untuk terus dipertahankan, jika ada pihak atau kelompok yang hendak melakukan makar, kami sebagai komponen anak bangsa pasti akan berjuang mempertahankan keutuhan NKRI,” tegasnya.

Semua perlu waspada pada pergerakan kelompok radikal

Masih di dalam kesempatan yang sama, tuan rumah acara yakni Brigade Muslim Indonesia mengajak semua pihak terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ruang gerak kelompok radikal ini.

“Semua pihak tidak boleh menutup mata dengan keberadaan kelompok radikal ataupun kelompok intoleran termasuk kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI,” kata ketua Brigade Muslim Indonesia, Muhammad Zulkifli.

Baginya, kerjasama dan saling bersinergi adalah kunci terbaik untuk menghalau penyebaran paham merusak ini. Kerja-kerja kolektif ini diharapkan bisa dijalankan dengan baik oleh seluruh ormas yang ada di Indonesia dengan menjalankan perannya masing-masing.

“Kita tidak boleh menganggap remeh, kita harus punya langkah nyata sebagai bentuk ikhtiar kita untuk mengantisipasi ini semua. Oleh karena itu mari kita semua harus bersinergi, bergandengan tangan dan bekerja sama dalam memerangi kelompok tersebut,” serunya.

Pos terkait