Stop Gunakan Radikal, Pakailah Diksi Ekstremis

  • Whatsapp
muhammadiyah logo

Inisiatifnews.com – Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Biyanto meminta agar masyarakat tidak lagi menggunakan diksi radikal untuk memberikan label negatif kepada mereka yang melakukan tindakan teror dan berujung kekerasan.

Hal ini berdasarkan pemikirannya, bahwa kata radikal bisa bermakna positif maupun negatif. Sementara aksi terorisme hingga aksi bom bunuh diri jelas perbuatan negatif, sehingga diksi yang dianggap paling tepat adalah ekstremisme.

Bacaan Lainnya

“Kita sebaiknya tidak sering-sering pakai kata radikal, karena dalam disiplin ilmu saya, radikal itu sifatnya bisa positif,” kata Biyanto dalam diskusi online yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah (LP2 PPM), Jumat (2/4/2021) malam.

“Tapi kalau mau pakai ya pakai kata-kata ekstremisme. Kalau kita pakai kata ekstremisme itu lebih pas dibanding pakai kata radikalisme,” imbuhnya.

Radikalisme dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) bisa diartikan sebagai landasan seseorang untuk berpikir dan bertindak maju secara keras untuk melakukan perubahan.

Sementara ekstremisme bisa diartikan sebagai sikap, perilaku dan pemikiran seseorang yang merasa paling benar dan paling segalanya dari orang lain.

Jika ditarik dalam konteks beragama, sikap merasa paling benar sendiri, keras kepala, enggan menerima orang lain berbeda dengan dirinya serta melakukan tindakan-tindakan yang cenderung di luar batas adalah bagian dari ektremisme beragama.

Kemudian, ia pun memberikan penjelasan bahwa adanya ekstremisme beragama merupakan bagian dari dinamika manusia dalam memahami agama. Jika Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi atau kelompok umat Islam yang mengusung wasatiyah, sementara kelompok ekstremisme ini lebih memilih mengusung label jihad untuk melakukan tindakan kekerasannya.

Kelompok ini kata Biyanto memilih untuk memahami agama secara tekstual saja, keras kepala dan tidak mau menerima perbedaan. Bagi siapapun sekalipun ia umat Islam, jika berbeda dengannya bisa dianggap kafir dan musuh.

“Ada yang sebut kelompok ini sebagai neo-khawarij. Kelompok ini memiliki pemahamannya tekstual, keras, menyulitkan, sombong pada pemikiran sendiri, tidak mau terima perbedaan, tidak peduli apakah itu fitnah atau tidak, bahkan pembunuhan dianggap jadi bagian dari jihad. Orang tidak sama dengan saya dia adalah musuh saya,” jelasnya.

Bagi Biyanto, kelompok semacam ini meresahkan sambil menciptakan gejolak di jalangan masyarakat dan perlu mendapatkan atensi semua pihak.

“Kalau kita ketemu dengan ideologi begini kan bahaya, bisa menciptakan disharmoni bangsa,” tuturnya.

Pos terkait