Lewat Tulisan Tangan, Yenny Wahid Sebut Karakter Teroris Gelisah & Tak Terbuka

  • Whatsapp
Yenny Wahid
Yenny Wahid

Inisiatifnews.com – Putri Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) mengungkapkan, tulisan tangan dapat memaparkan karakter seseorang. Tulisan tangan, dapat dianalisa dan dapat untuk mengidentifikasi kondisi psikologis seseorang.

“Misalnya, ada yang jiwanya ceria, tenang-tenang tapi menghanyutkan, ada yang punya kharisma seperti bupati, dan sebagainya, itu bisa diketahui dari tulisan tangan, bisa dianalisa,” ungkap Yenny saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Kebangsaan Lintas Agama virtual di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Jawa Timur, Sabtu (3/4).

Bacaan Lainnya

Acara ini digelar oleh DPC Barikade Gus Dur Kabupaten Jember dan dibuka oleh Wakil Bupati Jember, KH Firjaun Barlaman, serta sejumlah tokoh perwakilan lintas agama.

Untuk diketahui, sebelum melakukan aksinya, dua teroris yang melakukan pengeboman di Makassar dan pelaku penembakan di Mabes Polri, menulis surat untuk keluarganya dengan tulisan tangan. Selain berisi permintaan maaf kepada keluarga, surat tersebut juga berisi wasiat dan ajakan kepada seluruh keluarganya untuk menjauhi pemerintah, serta berbagai ajakan lainnya.

Yenny mengakui, dirinya sudah berkomunikasi dengan seorang ahli grafologi atau ahli tulisan tangan Deborah Dewi, terkait tulisan dua teroris tersebut. Ternyata hasil analisanya, menunjukan 3 karakter yang dimiliki oleh dua teroris itu.

Pertama, keduanya adalah sosok yang egois, tidak terbuka dengan pola pikir yang berbeda dengan dirinya. Keduanya enggan berpikir dengan perspektif lain, kecuali pikirannya sendiri.

Kedua, rasa percaya dirinya sangat rendah dan ketiga, punya kegelisahan yang berlebihan. Katanya, kegelisahan yang berlebihan itu kemudian direspons oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Mereka berdalih menolong dengan doktrin agama yang telah diselewengkan. Sehingga pelaku merasa mendapatkan rasa aman dan percaya diri tapi semu.

“Jadi kegelisahan tersebut akhirnya dieksploitasi, dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga dia merasa aman, yang kemudian membuat mereka melakukan penyerangan,” papar Komisaris Independen Garuda Indonesia ini.

Yenny menambahkan, radikalisme bukan dari agama tetapi ajaran agama diselewengkan untuk mengindoktrinasi seseorang. Khususnya yang sedang mengalami rasa cemas, putus asa sehingga bersedia melakukan kekerasan agar dia bisa eksis.

Di Indonesia, Yenny mengingatkan, dalil agama sangat mampu dipakai untuk mengindoktrinasi seseorang, terutama anak-anak muda dan generasi milenial yang sangat rentan dan masih mencari jati diri.

“Ini PR bagi kita semua, terutama keluarga. Karena keluarga adalah tempat pembinaan yang utama. Bangun pondasi yang kuat. Berikan rasa aman dan nyaman. Juga tokoh agama perlu menyediakan diri mendengarkan keluh kesah orang yang putus asa, rentan, dan sebagainya,” urainya. (INI)

Pos terkait