Romo Benny Imbau Publik Aktif Laporkan Akun Medsos Sebarkan Ideologi Kematian

  • Whatsapp
Benny Susetyo
Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo.

Inisiatifnews.com – Belum lama ini terjadi dua peristiwa memilukan di Tanah Air. Pertama adalah bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katderal Makassar dan kedua adalah aksi teror penyerangan yang terjadi di Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri).

Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada Hari Minggu 28 Maret 2021 itu setidaknya menyebabkan 20 orang mengalami luka-luka dan 2 pelaku tewas seketika di temapt. Sedangkan aksi penyerangan di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret kemarin menggemparkan publik. Seorang perempuan, tiba-tiba mendatangi kompleks Mabes Polri dan melakukan penembakan terhadap anggota Polri. Polisi pun berhasil melumpuhkan pelaku dengan menembakan di bagian jantung yang membuat tewas di tempat.

Bacaan Lainnya

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo menyebut, serangkaian aksi kekerasan yang terjadi bukti bahwa aksi terorisme masih berkembang di Tanah Air. Aksi bom bunuh diri ini sudah menjadi sebuah budaya yang disebut dengan  budaya kematian.

“Budaya kematian (Culture of Death) adalah suatu budaya yang tidak lagi bersahabat dengan sistem kehidupan manusia dengan menempatkan manusia pada posisi objek yang bisa memusnahkan kehidupan,” kata Romo Benny dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/4).

Kekerasan yang berkaitan dengan budaya kematian, kata Romo Benny, berhubungan dengan eksistensi manusia yang mencari jati dirinya. Ketika seseorang mecari jati diri dan bertemu dengan orang atau lingkungan yang tidak seharusnya, akan mempengaruhi pemikiran dan sikap seseorang baik akan digunakan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, kepentingan polotik, kepentingan individu sepetti yakin akan mendapatkan surga.

Apalagi di era digitalisasi saat ini, semakin hilang kesadaran yang digantikan dengan kesadaran palsu. Munculnya kesadaran palsu ini menjanjikan ideologi kematian yang diartikan dapat memecahkan masalah dari mulai kefrustasian, kesenjangan sosial, dan luka batin.

“Padahal orang yang menyakiti sesamanya adalah orang yang melukai wajah Tuhan,” tegasnya.

Jalan maut ini, kata Romo Benny, masuk melalui media sosial, rekruitmen offline, dan lewat celah lainnya.

“Kesadaran palsu ini diyakini sebagai cara untuk mendapatkan surga yang semu. Dalam hal ini bangsa mengalami kegagapan dan cara satu-satunya adalah menciptakan kesadaran kritis melalui pendidikan kritis,” tambahnya.

Ada sejumlah cara untuk melawan budaya kematian ini. Yakni dengan memperkuat idoelogi Pancasila yang ditanamkan dalam cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi.

“Sudah banyak orang yang terpapar budaya kematian ini sadar dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Inilah yang harus ditampilkan kepada publik untuk mendeskripsikan bagaimana bahaya budaya kematian ini,” tegasnya.

Selian itu, harus ada patoroli atau pengawasan di media sosial terhadap konten-konten negatif yang bermuatan atau mengarah kepada budaya kematian ini. Jangan beri ruang dan masyarakat harus aktif melaporkan jika menemukan konten kekerasan berisi ideologi kematian.

“Baiknya masyarakat juga membuat konten tandingan yaitu konten positif untuk mengisi ruang publik dengan hal yang baik. Masyarakat harus bijak dalam mengolah informasi,” pungkas Romo Benny. (INI)

Pos terkait